18 Tahun Lalu, Megawati Jadi Presiden Perempuan Pertama
Opini

18 Tahun Lalu, Megawati Jadi Presiden Perempuan Pertama

18 Tahun Lalu, Megawati Jadi Presiden Perempuan Pertama Opini
Megawati Soekarnoputri
Kroniktotabuan.com

JAKARTA – 23 Juli 2001 tercatat merupakan tanggal yang cukup bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau dikenal dengan nama Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai presiden perempuan pertama di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Pelantikan Megawati yang digelar Senin (23/7/2001) sore tak disambut perayaan meriah oleh pendukungnya.

Bahkan kantor DPP PDI Perjuangan yang kala itu terletak di kawasan Pacenongan tidak ada perayaan yang meriah.

“Kita tentu saja gembira dengan pengangkatan Mbak Megawati. Hanya saja, seperti pesan Mbak Megawati, kegembiraan ini tidak boleh ditunjukkan secara berlebihan,” demikian Henny Kumbariyam (37), Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta seperti yang dikutip melalui laman kompas.com.

Bagi Jimmy Aryana Semeth (43), korban kasus 27 Juli yang ditemui di bekas Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, kemenangan Megawati ini terasa biasa-biasa saja dan tidak perlu dirayakan secara berlebihan.

“Memang sudah haknya, meski saya lebih senang Mbak Megawati jadi presiden tahun 1999 lalu atau 2004 sekalian.” Ungkap Jimmy.

Suasana politik yang mewarnai pelantikan Megawati kala itu memang tak elok untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Di Istana Negara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dilengserkan MPR tengah meradang.

Ia tidak menerima keputusan MPR yang mencabut mandatnya sebagai presiden. Relasi personal para tokoh reformasi memanas. Hubungan baik Gus Dur dan Megawati meruncing. Amien Rais yang semula menolak Megawati sebagai Presiden berbalik angin.

Situasi politik dan ekonomi pasca-reformasi juga terasa tidak menentu akibat kepemimpinan Gus Dur yang penuh kontroversi. Gus Dur berseteru hebat dengan DPR saat menyebut DPR seperti Taman Kanak-kanak. Gus Dur pun sempat mengeluarkan dekrit pembubaran DPR. Manuver Gus Dur disambut dingin. Mahkamah Agung memutuskan dekrit yang dikeluarkan Gus Dur bertentangan dengan hukum.

Lalu, hari ini 18 tahun lalu, parlemen yang berseberangan dengannya bersatu kubu dengan Megawati, wakilnya menahkodai negeri. Gus Dur ditinggal pergi. Sendiri. Itulah kenapa kemenangan Megawati atas kursi presiden berlangsung sunyi.

Takdir yang tertunda Perjalanan Megawati ke kursi RI 1 sungguh tak mulus. Dua tahun sebelum pelantikan itu, Megawati sebenarnya adalah sosok yang dielu-elukan sebagai presiden pengganti BJ Habibie.

Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Orde Baru yang tumbang pada 21 Mei 1998. Menjelang kejatuhan Orde Baru, Megawati berhasil menguasai Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan mengubahnya menjadi PDI Perjuangan.

Dukungan untuk Megawati sebagai bentuk perlawanan terhadap Soeharto kala itu tak terbendung. Sayangnya, di Pemilu 1999 Megawati gagal jadi presiden. Padahal, saat itu PDI Perjuangan menjadi partai pemenang dengan meraih sekitar 36 juta suara atau hampir 34 persen.

Saat itu presiden belum dipilih langsung oleh rakyat, masih dipilih oleh MPR. Pemilihan presiden yang dilakukan MPR diwarnai tarik menarik kepentingan. Ada dua kubu yang bersaing di MPR, yaitu PDI Perjuangan dan kubu Partai Golkar yang dinilai sebagai pewaris Orde Baru.

Amien Rais yang kala itu masih memimpin Partai Amanat Nasional (PAN) mulanya satu kubu dengan Mega sebagai penggerak reformasi. Namun, ia “menelikung” Megawati di tengah jalan dengan membentuk Poros Tengah.

Poros Tengah terdiri dari partai-partai Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa, PAN, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Keadilan (sekarang menjadi PKS). Mereka menolak Megawati menjadi presiden dengan alasan gender.

Dikutip dari catatan harian Kompas,  27 Juni 1999, berjudul “Dibahas, Jalan Tengah Pencalonan Presiden”, PPP maupun PK tetap pada pendiriannya menolak presiden dari kalangan perempuan.

Menurut Ketua Umum PPP Hamzah Haz, PPP berpegang pada fatwa ulama yang tidak memperbolehkan wanita menjadi presiden.

“Kalau Mbak Megawati jadi presiden, kami tidak bersedia duduk dalam pemerintahan,” kata Hamzah kala itu.

Poros Tengah pun mengantarkan Gus Dur sebagai presiden, mengalahkan Megawati dalam voting MPR. Gus Dur meraih 373 suara, sementara Megawati 313 suara. Kendati demikian, Megawati berbesar hati dan tetap menjalani perannya sebagai wakil presiden.

Namun, pada 2001, dinamika politik berbalik arah. Amien Rais yang saat itu merupakan Ketua MPR memotori Sidang Istimewa yang berujung pada jatuhnya Gus Dur. Megawati pun naik menjadi presiden merebut takdirnya yang tertunda.

Dan, Hamzah Haz yang semula menolak Megawati tak lagi buka suara saat MPR memilihnya mendampingi Megawati sebagai wakil presiden. (*)

 

Sumber: gesuri.id

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top