Jadi Korban Penipuan, Harapan 28 Guru di Bolmong ke Singapura Kandas
Berita Bolmong

Jadi Korban Penipuan, Harapan 28 Guru di Bolmong ke Singapura Kandas

Jadi Korban Penipuan, Harapan 28 Guru di Bolmong ke Singapura Kandas Berita Bolmong
Kroniktotabuan.com

BOLMONG–  Sebanyak 28 guru di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) diduga menjadi korban penipuan salah satu travel perjalanan di Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Harapan menginjakkan kaki di Singapura, kandas. Lantarannya, pihak travel sudah tidak dapat lagi memberangkatkan 28 guru tersebut meski sudah menyetor Rp7 juta per orang.

Menurut salah satu guru, pada Oktober 2018 lalu, Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan Bolmong bersama Dharma Wanita Bolmong melakukan pertemuan dan mengajak guru-guru untuk melakukan tour atau jalan-jalan akhir tahun ke Singapura.

Mereka kemudian sepakat dengan setoran Rp7 juta per orang. Penanggung jawab atau inisiator adalah Kepala Bidang PAUD Rusni Mokoagow.

Yang akan berangkat ke Singapura pada akhir 2018 lalu ada 3 kelompok. Setiap kelompok 20- 30 orang.

“Kami masuk di kloter ke 3 dengan jumlah 28 orang termasuk di dalama istri Kepala Dinas Pendidikan. Kesepakatan itu kami pun melakukan pembayaran ke pihak travel sebesar Rp6 juta, dan sisanya lagi Rp1 juta disetor ke Kabid PAUD,” ungkap salah satu guru yang meminta namanya dirahasiakan, Senin (1/7/2019).

Kloter 1 dan kloter 2, kata dia, sudah melakukan perjalanan. Namun hingga saat ini memasuki pertengahan tahun 2019, kloter 3 belum diberangkatkan dan tidak ada kabar lagi.

“Kami mulai curiga dan mempertanyakanya ke Kabid PAUD, namun menurut Ibu Kabid pihak travel telah melakukan penipuan,” terang dia.

Kabid PAUD Dinas Pendidikan Bolmong Rusni Mokoagow membenarkan hal tersebut. Ia mengaku telah bekerja sama dengan travel Manado Graffity sebagai pihak ketiga.

“Memang kejadian ini tanggung jawab saya, tapi saya akui ini murni kesalahan travel. Karena dananya saya sudah transfer semua ke travel,” kata Rusni, saat dikonfirmasi.

Menurut Rusni, pihak travel Manado Graffity mengaku dana untuk kloter 3 sebagian sudah terpakai untuk keberangkatan kloter 2.

“Waktu itu dana sudah tidak cukup tapi dipaksakan. Jadi dana untuk kloter 3 yang sudah ditransfer pun dipakai,” ungkap Rusni.

Rusni mengaku, sebagai tanggung jawab ia setiap hari mempertanyakan uang para guru yang sudah di transfer ke pihak travel. Namun pihak travel selalu berkelit bahwa meminta waktu pengembalian.

“Jawabannya selalu saja meminta waktu untuk pengembalian. Saya pun memberikan waktu tapi saya jadi sasaran kemarahan para guru,” ujar Rusni menjelaskan.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Bolmong Renti Mokoginta saat dikonfirmasi mengaku keberangkatan para guru tersebut merupakan kesepakatan pribadi para guru. Ia pun telah meminta kepada Kabid PAUD untuk mengajak guru melaporkan ke Polres Kotamobagu.

“Hari ini juga saya sudah instruksikan Kabid PAUD untuk laporkan ke Polres,” pungkasnya. (len/zha)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top