Berita Ekonomi

Kisah Penjual Lauk Pauk yang Bertahan di Tengah Pandemi Meski Tak Dapat Bantuan

Lely Maani (Biru) pemilik Pondok Kinanti yang bertahan tetap menjual lauk pauk di tengah pandemi Covid-19.
Kroniktotabuan.com

KOTAMOBAGU– “Awal pandemi kira-kira Maret sampai Juni itu paling berat sekali. Penurunan omset luar biasa. Sedikit sekali pembeli datang. Bahkan yang sudah langganan pun banyak tidak lagi datang membeli lauk pauk di sini. Berat sekali saat itu,” begitu keluh Lely Maani, penjual lauk pauk di Pondok Kinanti ketika ditanyai soal Covid-19, Jumat (13/11/2020).

Pondok Kinanti terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Motoboi Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Lely adalah pemilik pondok yang menjual aneka macam lauk pauk.

Pagi pukul 10.00 Wita, pembeli mulai berdatangan. Lely dan rekannya mulai melayani pembeli.

Saat ini kondisi berangsur membaik. Pembeli dan pelanggan lauk pauk di pondoknya perlahan mulai kembali lagi.

“Ini berkat adanya kelonggaran pemerintah yang membolehkan masyarakat beraktivitas seperti biasa asalkan menerapkan protokol kesehatan,” kata Lely.

Ibu dua anak ini menceritakan, sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia lalu hingga sekarang dia tetap berjualan. Sempat ada kekhawatiran kehidupan tidak akan normal lagi, karena hampir semua aktivitas dibatasi.

“Tapi saya tetap jualan. Sulit sekali karena penjualan turun. Sempat berpikir berhenti berjualan, tetapi balik lagi saya harus memenuhi kebutuhan keluarga.”

“Saya juga berpikir bahwa yang saya jual ini ikan dan sayuran masak, tetap ada yang akan beli. Alhamdulillah tetap ada meski turun omset,” ucapnya.

Dia juga mengeluh tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah selama pandemi. “Tetapi saya tidak kecewa, saya tetap jualan,” kata dia.

Sekarang, Lely mulai semangat lagi berjualan. Berangsur omsetnya meningkat lagi. Dia menjual lauk pauknya dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp6.000 sampai Rp15.000 untuk setiap porsi.

Supaya pelanggannya merasa aman dan nyaman, Lely menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Ada wadah pencuci tangan yang kami siapkan. Jadi, pembeli yang datang wajib mencuci tangan terlebih dahulu dan memakai masker,” katanya.

Lelly menuturkan, pembeli yang datang dan tidak memakai masker, akan diminta untuk memakai masker terlebih dahulu. Jika tidak katanya, belum dilayani.

“Jadi, wajib memakai masker. Apalagi mencuci tangan dan menjaga jarak meski banyak antrian pembeli,” katanya.

Lelly berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir. “Supaya tidak ada rasa was-was lagi ketika jualan dan berinteraksi dengan orang lain,” tandasnya. (bto)

 

Silahkan Berkomentar dengan Bijak, Menggunakan Akun Facebook Anda :

To Top