.
Iklan Resmi Pemerintah kota Kotamobagu Idul Fitri Iklan Resmi Pemerintah kota Kotamobagu Idul Fitri
Ikan Patin Dikembangkan di Kotamobagu Berita Kotamobagu
Kroniktotabuan.com

KOTAMOBAGU– Kotamobagu bakal menjadi sentra produksi ikan jenis Patin diwilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR). Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi. Sebab, saat ini puluhan ribu bibit jenis ikan yang masuk kelompok ikan berkumis itu, tengah dibudidaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu.

Data dihimpun, Pemkot melalui Dinas Perikanan, Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Kotamobagu, menyalurkan bantuan sebanyak 44 ribu bibit ikan patin kepada 11 kelompok yang tersebar diwilayah Kota Kotamobagu

“Kami sudah berikan Bantuan 44 ribu bibit ikan patin kepada 11 kelompok pembudidaya ikan di Kotamobagu, masing-masing kelompok menerima empat ribu bibit ikan patin,” ungkap Kepala Dispertanak Muljadi Suratenodjo melalui Kepala Bidang Perikanan Anto Mamonto, Selasa (28/8/2018).

Jenis ikan patin ini termasuk ikan yang baru dikembangkan di Kotamobagu. Dimana sebelumnya, masyarakat hanya melakukan budidaya ikan Nila dan ikan Mas.

“Nah ikan patin ini kami coba budidayakan disini. Sebab, rasanya enak seperti ikan nila dan ikan mas. Disamping itu, awalnya juga sudah ada warga yang membudidayakan ikan patin ini, namun karena tidak berlanjut, maka kami coba budidayakan lagi ikan ini,” ujarnya.

Ia  menjelaskan, bibit ikan tersebut dipesan dari luar pulau Sulawesi, di Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Ikan jenis patin harus di perairan umum agar proses pematangan dan produksinya cepat.

“Ikan patin bisa dikonsumsi setelah dia berumur Lima hingga Delapan bulan. Itu sudah bisa dimakan, tapi jika dia berproduksi bisa sampai 2 tahun. Memang jika dia besar itu seperti ikan paus, ukuran panjangnya kurang lebih 1 meter, namun itu masih menunggu sekitar dua tahun,” jelasnya

Sementara itu, Abdul Rahman Ketua Kelompok pembudidaya ikan Asal Kelurahan Molinow Kecamatan Kotamobagu Barat, mengaku, sudah membudayakan ikan patin sejak tahun 80an. Namun, karena makanannya mahal, dirinya tidak lagi memproduksi ikan tersebut.

“Dulu pernah saya memproduksi ikan ini, namus sempat terhenti karena makanannya mahal. Nah, dengan bantuan ini tentu kami bersyukur, meski makanannya masih terbilang mahal, tapi kami terus budidayakan ikan patin ini,” tandasnya. (tr1/vdm)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

To Top