>
.
Iklan Resmi Pemerintah kota Kotamobagu Idul Fitri
Berita Kotamobagu

Jualan Bendera di Kotamobagu Menjanjikan, Neneng: Kami Tinggalkan Kampung Demi Indonesia Juga

Jualan Bendera di Kotamobagu Menjanjikan, Neneng: Kami Tinggalkan Kampung Demi Indonesia Juga Berita Kotamobagu
Neneng Kartini, pedagang bendera merah putih di Jalan Datoe Binangkang, Kotamobagu. Selain cari rezeki, Neneng juga punya tekad menularkan semangat nasionalisme di daerah ini lewat caranya sendiri. (f: zha)
Kroniktotabuan.com

KOTAMOBAGU– Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indoensia (RI) 17 Agustus setiap tahun selalu membawa berkah bagi pedagang bendera merah putih yang berjualan di sejumlah sudut Kotamobagu.

Itu dirasakan pasangan suami istri Muhammad Ramdan, 41, dan  Neneng Kartini, 34, warga Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Mereka berjualan bendera merah putih, bandir dan umbul- umbul di Kelurahan Kotamobagu, Kecamatan Kotamobagu Barat, belakang kantor cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Namun, berjualan bendera merah putih tak melulu soal mencari keuntungan semata.

Kepada Kronik Totabuan, Senin (6/8/2018), Neneng menuturkan, apa yang dia dan suaminya lakukan adalah bagian dari bentuk kecintaan mereka terhadap Indonesia. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dengan membawa sekira 200 kilogram (kg) bendera, bandir dan umbul- umbul merah putih, demi mengobarkan semangat Nasionalisme ke daerah ini.

“Memang keuntungan jualan bendera merah putih, bandir dan umbul- umbul lumayanlah setiap menjelang 17 Agustus. Tetapi selain cari rezeki halal buat keluarga, saya dan suami juga ingin ambil bagian mengobarkan semangat nasionalisme. Sudah empat lima berturut- turut kami datang ke Kotamobagu,” tutur Neneng, sembari menunjukkan satu persatu bendera jualannya.

Neneng dan suaminya meninggalkan dua anak mereka di Garut. Anak pertama Silviani Putri sekarang duduk di bangku SMP, sedangkan anak kedua Amira, baru berusia dua tahun. Selama di Kotamobagu, kedua anak itu dititip ke nenek mereka di Garut.

Semangat nasionalisme yang hendak dikobarkan Neneng dan suaminya seirama dengan kibaran bendera merah putih yang menghiasi trotoar di Jalan Datoe Binangkang. Mereka tak henti mengajak orang yang sekedar lewat agar singgah membeli. Terik matahari tak membuat semangat mereka luntur.

“Bendera kecil Rp35 ribu, bandir Rp60 ribu, umbul- umbul Rp40 ribu. Setiap tahun datang ke Kotamobagu, saya bawa barang dua kodi, suami juga dua kodi. Kalau ditotal sekira 200 kg.  Barang- barang ini dari salah satu perusahaan konveksi besar di Garut sana,” ungkap Neneng.

Yang banyak bercerita adalah Neneng. Sedangkan suaminya Muhammad Ramdan, sedang siap- siap pergi membuka lapak di jalan Soetoyo, seberang jalan Datoe Binangkang.

“Kalau keuntungan dari jualan ini lumayanlah, bisa sampai 50% dari total harga barang yang kami bawa ke sini,” beber Ramdan sambil bergegas.

Setiap datang berjualan ke Kotamobagu, Neneng mengaku selalu terkesan dengan keramahan warga di sini. Saat pulang ke Garut 18 Agustus nanti, hal- hal inilah yang ia dan suaminya ceritakan kepada anak- anak dan keluarga lainnya.

“Orang Kotamobagu baik- baik. Cara bicaranya sopan dan mudah kenal, bisa langsung nyambung. Saya dan suami sudah punya agenda tetap, tiap jelang 17 Agustus akan datang jualan terus di sini,” ungkap Neneng mengakhiri. (zha)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top