.
Berita Nasional

ADM Minta Dihukum Ringan, Bacakan Pledoi Berjudul “Demi Cinta dan Baktiku Padamu Ibu”

ADM Minta Dihukum Ringan, Bacakan Pledoi Berjudul “Demi Cinta dan Baktiku Padamu Ibu” Berita Nasional
ADM usai menjalani sidang pembacaan pledoi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. (F: Antara)
Kroniktotabuan.com

JAKARTA– Anggota DPR RI Aditya Anugrah Moha (ADM) kembali menjalani sidang lanjutan atas kasus dugaan suap pada mantan Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono, Rabu (23/5/2018).

Sidang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Puluhan orang, keluarga dan kerabat ADM hadir. Mereka memberi dukungan dengan menggunakan baju bertuliskan “Love ADM”.

Agenda sidang tadi siang adalah pembacaan nota pembelaan (pledoi). Diawali pembacaan pledoi pribadi oleh ADM yang diberi judul “Demi Cinta dan Baktiku Padamu Ibu”.

Dalam pledoinya setebal belasan halaman itu, ADM menyampaikan permohonan maaf hingga alasan dirinya melakukan pelanggaran hukum.

Sepanjang pembacaan pledoi, beberapa pendukung Aditya Moha yang menggunakan kaos putih termasuk keluarga dan istri sempat terharu hingga menangis.

Dalam pledoinya ADM menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Sudi Wardono. Hingga kemudian memberikan uang 110 ribu dolar Singapura dari 120 ribu dolar yang dijanjikan.

Namun, sebenarnya ADM tak pernah berniat untuk memberikan uang untuk menyuap Sudi Wardono. Dia hanya ingin agar Sudi Wardono dapat mempertimbangkan kondisi ibunya, Marlina Moha Siahaan yang kurang sehat agar tidak ditahan.

ADM mengatakan, pertemuan tersebut berawal ketika Ibunya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi Tunjangan Penghasilan Apartur Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 oleh Polisi dari tahun 2010 hingga 2017. Dalam kasus tersebut Marlina divonis penjara selama lima tahun oleh Pengadilan Negeri Manado dan langsung ditahan.

“Enam tahun perkara banyak kuras tenaga, energi, pikiran kami, ini sebabkan ibunda sakit dan harus dapat perawatan khusus di rumah sakit, kondisi ibu buat saya khawatir. Saya punya latar belakang kesehatan, saya anak tertua jadi tulang punggung keluarga sesudah kepergian ayahanda kami,” katanya saat membacakan pledoi.

ADM mengatakan pertemuannya dengan Sudi Wardono tidak pernah direncanakan sebelumnya apalagi ingin menjanjikan sesuatu kepada Sudi. ADM cerita awal mula dirinya bertemu dengan Sudi.

Menurutnya, saat itu dia diperkenalkan oleh Lexi Mamonto yang hadir dalam acara halal bihalal keluarga Bolaang Mongondow di Jakarta.

“Sampai acara halal bihalal keluarga Bolang Mongondow di Jakarta, saya ketua panitia, saya sedkit bagi cerita kondisi ibunda, setelah putusan dan langsung ditahan oleh kejakasaan,” kata ADM.

“Setelah sampaikan pidato, saya duduk kembali, sya ketemu Lexi Mamonto, bapak Lexi sampaikan prihatin, dia juga mengaku kenal sama sudi selaku Kepala PT Manado, akhirnya karena simpati dan empati itu, dia hantarkan pertemuan saya sama Sudi,” lanjutnya.

Anggota Komisi XI DPR RI tersebut mengatakan dengan melihat kondisi ibunya yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan, dirinya mulai mnecari cara untuk menyelamatkannya. Dia mengaku dirinya tidak tenang dengan kondisi ibunya seperti itu.

“Saya tidak tenang pikir kondisi ibu, apalagi sejak kami ditinggal ayah, praktis hanya ibu jadi priorotas saya. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik ke ibunda, jangankan harta bahkan nyawa saya rela pertaruhkan untuk jaga kehormatan. Ayahanda saya titipkan jaga ibu,” kata Aditya.

“Saya nggak inisiatif tawarkan hadiah ke Sudi, hal ini bukan gaya atau kebiasaan kami, terlebih dia ketua PT. Setelah Sudi bilang dapat bantu, namun harus ada perhatian, saya nggak ada pilihan, apakah dapat memenuhi permintaan Sudi, dalam pikiran saya memastikan ibu saya dapat tempat terbaik. Setiap pertemuan saya sama Sudi nggak pernah ketemu di ruang kerja beliau, nggak pernah terpikirkan minta Sudi jadi hakim ketua majelis perkara ibunda saya,”  katanya.

“Karena itu saya meminta majelis hakim sebagai wakil Tuhan di dunia dapat memutus perkara ini seadil-adilnya dan menjatuhkan hukuman seringan-ringannya,” tutupnya.

Sebelumnya, ADM dituntut enam tahun penjara oleh Jaksa KPK pada sidang

Rabu (9/5/2018) silam. Oleh jaksa, dia dinilai terbukti menyuap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono guna membebaskan ibundanya dari jeratan hukum.

Selain tuntutan enam tahun penjara, aditya Moha juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 200 juta dengan subsider dua bulan kurungan dan biaya perkara Rp 7500. (trb/sud/zha)

sumber: tribunnews.com & suara.com

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

To Top