Berita Nasional

Apa Bedanya Pelacur, WTS, PSK, Kupu-Kupu Malam?

Apa Bedanya Pelacur, WTS, PSK, Kupu-Kupu Malam? Berita Nasional
Kroniktotabuan.com
Apa Bedanya Pelacur, WTS, PSK, Kupu-Kupu Malam? Berita Nasional

Ilustrasi.

JAKARTA – Dosakah yang dia kerjakan / Sucikah mereka yang datang / Kadang dia tersenyum dalam tangis / Kadang dia menangis di dalam senyuman…

Sudarwati yang popular dengan nama Titiek Puspa mencipta dan menyanyikan lagu berjudul ‘Kupu-kupu Malam’ itu pada 1976. Isunya, hingga kini masih dan akan selalu aktual.

Tak diketahui pasti siapa yang menciptakan istilah ‘Kupu-kupu Malam’ dan kapan hal itu pertama kali dicetuskan. Hanya saja menurut sastrawan Yapi Panda Abdiel Tambayong alias Remy Sylado kata itu merupakan sebuah perumpamaan.

“Jadi, kupu-kupu itu kan indah tapi hidupnya pendek, cuma semalam dinikmatinya,” kata penulis novel Ca Bau Kan itu dilansir detikcom, Rabu (1/11/2017).

Kalau belum jadi kupu-kupu, dia melanjutkan, kan jelek, tidak bisa dinikmati.

Selain ‘Kupu-kupu Malam’ yang terasa puitis, istilah paling umum yang digunakan untuk menyebut perempuan yang biasa menjajakan diri adalah pelacur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dasarnya adalah ‘lacur’ yang berarti malang, celaka, sial. Atau merujuk kepada perlaku yang buruk.

Mungkin karena dirasa terlalu vulgar di masa era Orde Baru yang gemar menghalus-haluskan sesuatu, pada 1996 dibuatkan istilah yang terasa canggih untuk merujuk pelacur: Wanita Tuna Susila. Eufemisme ini diresmikan dalam bentuk Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 23/HUK/96, pemerintah lebih mengakui wanita tunasusila (WTS). Muncul karena perempuan itu tidak mempunyai susila. Tidak mempunyai adab dan sopan santun dalam berhubungan seks berdasarkan norma di masyarakat.

Tapi menurut Kuncoro dan Sugihastuti dalam artikel mereka di Humaniora UGM, 1999, “Pelacur, Wanita Tuna Susila, Pekerja Seks, dan ‘Apa Lagi’: Stigmatisasi Istilah”, eufemisme itu sempat menuai kritik dari sejumlah kalangan. Sebab dalam kenyataannya yang menjadi pelacur tak cuma kaum perempuan tapi juga laki-laki yang dikenal dengan istilah gigolo.

Bagi sementara kalangan, istilah WTS pun sepertinya dirasa masih kurang atau tidak pas. Sehingga dalam waktu hampir bersamaan muncul istilah Pekerja Seks Komersial (PSK). Penggantian istilah pelacur menjadi pekerja seks, menurut Kuncoro dan Sugihastuti, berakar dari terminology sex worker yang diajukan oleh para penulis radikal. “Dalam banyak literature, istilah sex worker dalam referensi Barat, sebenarnya baru muncul pada awal 1990-an,” tulisnya.

Dalam kesimpulannya, dosen psikologi dan sastra di UGM itu menyatakan istilah pelacur sebetulnya lebih pas ketimbang WTS dan PSK. Sebab pelacur sejatinya tak membedakan jenis kelamin lelaki atau perempuan. “Secara denotatif dan konotatif, istilah pelacur itu lebih lengkap dan spesifik.” (detiknews)

Sumber: detik.com

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top