Menteri Susi Ajak Masyarakat Indonesia Teladani Tekad Kuat Bangsa UEA
Berita Nasional

Menteri Susi Ajak Masyarakat Indonesia Teladani Tekad Kuat Bangsa UEA

Menteri Susi Ajak Masyarakat Indonesia Teladani Tekad Kuat Bangsa UEA Berita Nasional
Kroniktotabuan.com
ABU DHABI – Sebelum bertolak ke Indonesia, di hari terakhir kunjungan kerjanya di Abu Dhabi, Rabu (6/3) malam, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertemu dengan masyarakat Indonesia (diaspora) yang tinggal di Abu Dhabi. Didampingi Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Abu Dhabi, Husin Bagis dan Konsulat Jenderal RI untuk Dubai, Ridwan Hassan, Menteri Susi bersilaturrahmi dengan sekitar 200 warga Indonesia yang datang dari Abu Dhabi, Dubai, Al Ain, dan Ruwais di  Wisma Kedutaan Besar RI Abu Dhabi.

Dalam kegiatan yang penuh suasana keakraban tersebut, Menteri Susi dan masyarakat yang hadir sempat menyanyikan beberapa tembang kenangan Indonesia. Usai makan malam bersama, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada kesempatan tersebut, Menteri Susi berbagi pengalaman dan menyampaikan beberapa pesan bagi masyarakat Indonesia disana.

Diawali dengan lemparan pujian dari Menteri Susi atas menu ‘nasi mandi ikan’ yang disajikan. “Tadi ada nasi mandi ikan. Saya pikir ini mungkin karena takut ditenggelamkan kali ya, disiapin juga nasi mandi ikan. Rasanya baru denger ada nasi mandi ikan, tapi terima kasih,” kelakar Menteri Susi yang disambut gelak tawa masyarakat yang hadir.

Menteri Susi menilai, menu ikan yang disajikan tersebut turut membantu menyukseskan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarakat. Menteri Susi menceritakan, tahun 2018 lalu angka konsumsi ikan nasional telah mencapai 50,69 kg per kapita. “Ini jauh lebih banyak dari target di tahun 2019 yang seharusnya kita 46 kg/kapita. (Target) tahun 2020 baru 50 kg/kapita. Tapi kemarin tahun 2018 sudah 50 kg (red-50,69 kg),” tuturnya.

Menteri Susi menyebut, kenaikan angka konsumsi ikan nasional itu tak serta merta diikuti dengan kenaikan impor produk perikanan. Bahkan menurutnya impor ikan Indonesia berkurang. Hal ini terjadi karena ikan di perairan Indonesia jauh lebih banyak dari sebelumnya. “Sekarang ikan banyak sekali. Di timur Indonesia nelayan pakai perahu kecil juga sudah bisa tangkap tuna,” lanjutnya.

Kendati demikian, Menteri Susi tak mau berpuas diri. Ia membandingkan keadaan Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA). Menurutnya, meskipun hanya negara kecil dengan perairan yang jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia, UEA mampu menjadi negara dengan populasi dugong kedua terbesar di dunia. Hal ini berkat tekad kuat yang dimiliki negara tersebut untuk maju di tengah kekurangan yang dimilikinya.

“Betapa negara kecil seperti mereka memiliki determination (red-tekad) yang luar biasa. Mereka memiliki keinginan yang kencang untuk membangun yang kecil ini bagaimana caranya menjadi besar dan terbesar. Sekarang dugong (red-UEA) sudah menjadi yang kedua populasinya di dunia,” Menteri Susi mengapresiasi.

“Orang-orang UEA ini luar biasa tekad dan keinginan untuk memperbaiki bagaimana mereka dengan segala cara menghijaukan gurun, membuat indah, building from nothing, just sand become very green, very nice,” lanjutnya.

Menteri Susi membandingkan dengan keadaan di Indonesia, di mana dugong masih diburu untuk dikonsumsi karena memiliki rasa daging yang lezat dan disebut-sebut mirip daging sapi. Padahal menurutnya, dugong merupakan satwa langka yang harus dilindungi.

Begitu pula dengan mangrove. Di Indonesia hutan bakau yang ditanam ditebang, diambil kayunya untuk membuat rumah, dijadikan kayu bakar, atau dijadikan arang untuk diekspor.

“Semestinya negara itu bisa mempunyai one order for environment, one order for law enforcement. Kalau sudah seperti itu, nanti gampang mengatur negara karena semua sudah sama. Kalau di kita semau-maunya. Daerah ini begini, daerah sana beda lagi.”

Menteri Susi berharap, bangsa Indonesia dapat meniru tekad kuat yang dimiliki bangsa UEA. Menurutnya, Indonesia memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dari bangsa UEA, namun tekadnya masih kurang. “Saya kadang pikir determination masih kurang di orang kita. Terlalu sumeleh (red-pasrah), terlalu yo wes, opo ono ne cukup (ya sudah, apa adanya sudah cukup),” imbuhnya.

Menteri Susi menilai, kuatnya tekad dan keinginan bangsa UEA khususnya Dubai akan menjadikannya bangsa yang maju, menjadi pusat pariwisata, pendidikan, kesehatan, termasuk perikanan.  Keyakinan Menteri Susi ini didasari oleh kebijakan pelarangan berbagai jenis jaring oleh pemerintah negara tersebut untuk menjaga sumber daya perikanan di negaranya. Beberapa waktu belakangan, negara tersebut disebut hanya memperbolehkan alat tangkap pancing.

Menteri Susi juga mengaku terinspirasi dengan menteri-menteri di negara federasi tersebut yang masih muda, terdidik dengan baik, dan memiliki intelektual yang luar biasa. Dirinya berharap, suatu saat nanti Indonesia bisa dipimpin oleh generasi muda yang bisa membawa suasana baru (the news fresh air) bagi pemerintahan.

Menteri Susi menyebut, generasi muda memegang peranan penting untuk turut menjaga laut yang telah didaulat sebagai masa depan bangsa. Dalam 4 tahun terakhir, pemerintah telah memerangi illegal fishing dengan berbagai kebijakan, termasuk penenggelaman kapal pencuri ikan dan penataan perizinan kapal. Kebijakan ini pun menurutnya telah membawa dampak luar biasa dengan meningkatnya stok ikan lestari (maximum sustainable yield/MSY) di perairan Indonesia.

Namun menurutnya, pencapaian ini tak akan bertahan lama jika generasi muda tak ikut mengawal kebijakan pemerintah dalam menjaga sumber daya ikan sebagai sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources).

“Tambang suatu saat akan habis, minyak dan fosil itu energi yang akan habis, kalau sudah kita ambil lama-lama akan habis. Dan itu pun sudah punya konsesi orang-orang. Jadi yang masih bisa dimiliki orang-orang Indonesia adalah lautan, tidak boleh dikavling-kavling, milik bangsa kita, seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Sumber daya perikanan ini menurutnya sangat penting seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia yang membutuhkan semakin banyak bahan pangan khususnya sumber protein. Perairan Indonesia juga perlu dijaga dengan baik karena telah menjadi jalur transportasi dan logistik barang, energi, kegiatan ekonomi, sosial, dan pertahanan dunia. Oleh karena itu, kedaulatan harus dijaga untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban baru ekonomi kemaritiman.

“Neraca perdagangan perikanan kita sudah menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Ini prestasi yang harus terus dijaga. Jangan sampai kita lautnya kedua terbesar di dunia, tapi perikannanya paling buntut di Asia Tenggara,” tandasnya.

Sebagai informasi, dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Abu Dhabi, Selasa (5/3), Menteri Susi menyempatkan diri berkunjung ke pasar ikan Mina Fish Market yang berlokasi di dekat Pelabuhan Abu Dhabi. Pasar ikan tertua dan terbesar di Abu Dhabi ini menyediakan hasil tangkapan nelayan yang masih segar, seperti udang, kepiting, kerang, tuna, hammour, skate, cuddle, bahkan Hiu. Infrastrukturnya tersusun rapi dan bersih. Selain itu terdapat banyak restoran yang menyediakan kudapan berbahan dasar hasil laut untuk dicicipi.

Sebelumnya, Minggu (3/3), Menteri Susi melakukan wisata budaya dan spiritual ke Masjid Agung Syekh Zayed (Grand Mosque Syekh Zayed). Menteri Susi berkeliling melihat-lihat interior dan arsitektur masjid yang banyak digunakan untuk kegiatan konferensi dan simposium yang mencerminkan nilai-nilai luhur Islam tersebut. (ahr)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top