>
.
Opini

ADM, Anak Yatim yang Ingin Selamatkan Ibundanya

ADM, Anak Yatim yang Ingin Selamatkan Ibundanya Opini
Kroniktotabuan.com

 

ADM, Anak Yatim yang Ingin Selamatkan Ibundanya Opini

Aditya Moha dan Marlina Moha Siahaan.

Catatan : Ali Kobandaha

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan “Ibuku” adalah sebutan terindah. Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegar kita di kala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista. Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan dan ketakhadiran ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya. (Kahlil Gibran).

Pada era 1960-an, kelompok musik The Beatles melantunkan ratap fenomenal yang termasyhur seperti penggalan berikut ini. “Mother you had me but I never had you” (Ibu, kau memilikiku tapi aku tak pernah memilikimu). “Father, you left me but I never left you” (Papa, kau meninggalkanku tapi aku tak pernah meninggalkanmu). “Mama don’t go, daddy come home” (Mama jangan pergi papa pulanglah).

Penggalan kata Kahlil Gibran dan lantunan lagu The Beatles ini membuat saya terkagum dan hormat dengan apa yang dilakukan sahabat Aditya Anugrah Moha (ADM). Demi sebuah nama “Ibuku”, segala cara dia lakukan agar bakti dan pengabdianya yang penuh cinta ini bisa bernilai ibadah sebagai bakti seorang anak dan dirinya bisa bersatu berkumpul kembali dengan Ibunya. Surga di bawah telapak kaki Ibu. Nyawa pun ADM siap berikan untuk Ibundanya yang kini sedang menjalani ujian besar dari sisi kesabaran dan keikhlasan. Kalimat seperti ini pun menjadi viral di sosial media pascaoperasi tangkap tangan yang dilakukan KPK.

Sejak ditinggalkan sang ayah yang juga politiisi partai golkar, Almarhum Samsudin Kudji Moha pada Minggu 21 Maret 2010, saat itu ADM menjadi anak yatim dan sebagai kepala rumah tangga dengan statusnya anak pertama, menggantikan peran sang ayah yang dikenal sangat baik dan ramah pada semua orang.

Kondisi itu membuat ADM mendedikasikan dirinya untuk keluarga yang dia cintai, yaitu Ibunda Marlina Moha Siahaan (MMS) dan Maulana Bayu Moha sang adik. Peran seorang ayah benar-benar dilaksanakannya.

Pada pertengahan tahun 2011 lalu, Ibunda ADM, MMS diperhadapkan dengan sebuah ujian besar, yakni kasus hukum yang hingga kini membuat MMSharus menjalani proses hukuman di Manado.

Sebagai seorang anak, ADM sudah pasti akan melakukan berbagai hal yang bisa menyelamatkan sang Ibunda, apalagi dengan tidak adanya peran sang ayah yang selalu menjadi motivatornya. ADM berjuang sendiri, berjalan sendiri mencurahkan segala cintanya untuk keluarga. Ada pun dukungan moril dari berbagai pihak untuk Ibunda ADM, semua adalah bentuk simpati dan prihatin atas apa yang terjadi pada mereka. Namun, perjuangan ADM yang begitu gigih belum dapat dikalahkan oleh sikap anak manapun.

Besarnya kecintaan pada Ibunda, membuat dia harus menempuh jalan yang keliru secara hukum. Namun, bagi saya pribadi, sah dalam konteks penyerahan diri sepenuhnya untuk bakti dan cinta pada seorang Ibunda. Yang dilakukan ADM adalah sikap mulai, bukan sebuah sikap kehinaan.

Kata Richard M Nixon, baja yang paling baik adalah baja yang harus melewati tempaan bara api terpanas. ADM, kamu harus kuat dan tegar, engkau menjadi inspirasi bagi semua anak-anak Indonesia, bagaimana anak berbuat yang terbaik dan mulia untuk kebahagiaan Ibu.

Saya mengenal ADM sejak tahun 2005, dia anak berbakti, aktif diberbagai kegiatan sosial. Saat perjumpaan dengan ibundanya, saya pernah menyaksikan ADM mencium kedua tangan, mencium pipi Ibundanya penuh kasih hingga memeluk dengan mesra.

Lewat hal itu, saya berani mengatakan, anak yang berbakti akan melakukan apa pun demi sang Ibu. Seperti kisah berikut ini, seorang anak yang berhati mulia ingin menyelamatkan ibunya karena tahu bahwa usianya tak akan lama lagi.

Chen Xiatian, sejak usia 5 tahun didiagnosa menderita tumor otak. Hingga memasuki usia 7 tahun, tumor itu makin agresif dan membuatnya mengalami kelumpuhan serta kebutaan. Di samping itu, sang ibu ternyata menderita penyakit ginjal yang parah dan membutuhkan donor.

Tim medis yang memeriksa Chen mengatakan bahwa anak ini tak akan bisa mengecap usia dewasa karena begitu kronisnya. Meski begitu, ibu dan anak ini sama-sama berusaha menjalani perjuangan melawan penyakit mereka. Hingga suatu hari, Chen berkata pada ibunya, “Aku ingin menyelamatkan hidupmu Ibu.”

Zhou, sang ibu, selalu mengalihkan pembicaraan karena bagaimanapun ia tak ingin anaknya menderita. Tim dokter mendekati ibu Zhou, Lu Yuanxiu untuk meyakinkan Zhou bahwa dia memerlukan ginjal anaknya. “Mereka mengatakan bahwa cucuku tak akan selamat, tapi ginjalnya bisa menolong ibunya serta 2 orang lain. Aku membicarakannya dengan Zhou dan ia menolak mentah-mentah. Ia sama sekali tak ingin mendengar hal itu.”

Chen mendengar dilematis yang terjadi dan memaksa ibunya untuk mau menerima donor ginjal yang ia berikan. Dengan menitikkan air mata, Zhou akhirnya mengabulkan keinginan anaknya. Ia melakukannya agar bagian dari Chen masih melekat dalam dirinya ketika anaknya nanti telah tiada.

Usai operasi, Chen mendapat penghormatan dari tim medis. Kepergiannya menjadi perpanjangan hidup bagi banyak orang dan hal itu merupakan jasa besar yang tak ternilai harganya.

Kisah lainya yang menurut saya memiliki nilai sebagaimana yang dilakukan ADM adalah sikap seorang anak laki-laki berhasil menyelamatkan nyawa ibunya yang menyandang disabilitas saat Grenfell Tower di London terbakar. Anak laki-laki tersebut, Shekeb Neda (24), membawa ibunya, Flora (55), dengan menggendongnya di punggung lalu berlari menuruni anak tangga dari lantai 24. Ibunya sempat tak sadarkan diri setelah menghirup dan tersedak kepulan asap hitam kobaran api yang memblokade tempat tinggalnya.

Shekeb benar-benar bergerak cepat. Ia dengan cepat menggenggam lengan ibunya lalu menggendongnya ke punggung dan membawanya turun dari 24 lantai. Shakeb adalah pahlawan. Saat kondisi mencekam, terdengar ledakan dan teriakan, ia justru segera membawa ibunya turun dari lantai yang paling atas. Akan halnya yang dilakukan oleh seorang ADM demi menyelamatkan Ibundanya, ia harus terjerat ditangan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sebuah perjuangan paripurna dan bentuk pengorbanan terbaik.

Saya meyakini, kasus ADM ini adalah yang pertama terjadi di Republik ini. Dia melakukan itu demi menyelamatkan ibunya, MMS yang sedang banding di Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara. Marlina Moha divonis lima tahun penjara. “Saya berusaha semaksimal mungkin, niat saya baik tapi mungkin cara yang belum terlalu tepat. Saya berjuang saya berusaha maksimal demi nama seorang ibu,” kata ADM sebagaimana diberitakan sejumlah media.

Musibah yang kini mendera ADM, perlu dilihat dari dua sisi, pertama sisi hukum dan kedua sisi sosial. Apalagi jika kita memposisikan diri sebagai seorang ADM yang berjuang sendiri demi kehormatan sang Ibunda, tokoh pemekaran lima daerah di bolaang mongondow raya (Kotamobagu, Boltim, Bolsel, Bolmut dan Bolmong). Keprihatinan, penghormatan dan bait doa terbaik patut kita berikan kepada ADM dan Ibundanya..

Efek sosial kejadian ini pun pasti akan dialami sang adik tercinta, Maulana Bayu Moha, tanpa kehadiran sang Ibunda dan sang kakaknya karena akan menjalani proses hukum selanjutnya, Bayu akan melalui proses pergumulan bathin, melalui hari-hari yang mungkin tanpa kasih sayang kedua orang yang dia sangat cintai dan sayangi ini. Semoga Bayu juga akan kuat dan tegar sebagaimana sikap heroik yang dilakukan sang kakak, ADM. Salam hormatku untukmu ADM dan Bayu Moha, kalian adalah sahabat terbaik. Kejadian ini akan menjadi bait sejarah perjuangan seorang anak Demi Selamatkan Ibu di Negara kita ini.

Kini mereka yang setelah ditinggal ayah, harus berpisah dengan jarak dan waktu. Ibu mereka MMS akan menjalani proses hukum di Manado, ADM akan menjalaninya di Jakarta sedangkan Bayu Moha akan berjuang sendiri di Kotamobagu tanpa kehadiran sang ibu dan kakak menemani hari-harinya. Apalagi statusnya sekarang masih single.

Sebagai warga yang baik, mari kita sama-sama hormati proses hukum yang kini ditangani KPK sembari mendoakan agar ADM dan keluarganya bisa diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran yang paripurna dalam menjalani ujian saat ini. Amin! (*)

 *Penulis adalah pemuda Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top