Opini

Akuoi Moibog Koinimu 3000

Akuoi Moibog Koinimu 3000 Opini
Kroniktotabuan.com

Oleh: Tyo Mokoagow

Pernah satu waktu ibu mengirim video seekor bebek mengambil satu per satu makanan ikan untuk disuapi lewat paruhnya ke arah mulut-mulut mujair yang megap-megap. Saya langsung ingat kebiasaan ibu melempar sisa pepaya ke kolam belakang rumah hanya untuk lihat ekspresi ikan menangkap makanan. Lucu, kata ibu.

Pemandangan bebek menyuapi mujair itu membekas cukup lama di benak saya. Bila seekor hewan bisa mengekspresikan bahasa kasihnya melampaui perbedaan spesies dah habitat, kenapa manusia justru bisa saling membinasakan—bukan hanya spesies lain—spesiesnya sendiri?

Ibu punya hati selembut awan kapas. Apapun yang datang darinya adalah kasih. Sampai hari ini masih teka-teki bagi saya, sebenarnya apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan hati seorang ibu? Darinya saya belajar, bahwa cinta itu bahasa yang sangat universal, melampaui perbedaan kasta, kelas, bahkan spesies. Tetapi ketika diungkapkan, ia menjadi bahasa yang partikular. Untuk kakak kedua saya, bahasa kasih itu menjelma jadi “jaga kesehatan”. Untuk saya, bahasa kasih itu jadi “jangan begadang”. Kakak pertama saya sendiri sekarang membalas bahasa kasih ibu dengan cucu pertama bernama Arif.

Di antara kakak beradik, sesuai pengakuan ibu, katanya sayalah paling romantis (bakat yang saya yakin terasah setiap kali meminta uang bulanan ke ibu). Dalam keluarga, saya yang paling sering mengingatkan perayaan hari ibu atau hari ayah. Meski begitu, kakak kedua selalu bilang bahwa setiap hari kita patut merayakan rasa sayang kepada orangtua. Cinta memang tidak punya tanggal lahir, dan tak terbatas waktu pun ruang.

Tapi kata Emilie Durkheim, simbolisme maupun prosesi itu diperlukan dalam komunitas sosiologis. Simbol membantu solidaritas sosial terekat erat. Seorang Nasrani Evangelis dan Saksi Yehovah bisa menemukan keterikatan emosional bila mereka memegang salib yang sama, tanpa perlu saling mengenal satu sama lain. Seorang bersuku Bolaang Mongondow dan Sunda bisa saling bekerja sama di bawah nama nasionalisme meskipun mereka asing satu sama lain. Simbol membuat umat manusia bisa bekerja sama dalam jumlah besar dan fleksibel. Para pembaca Harari barangkali akan bilang bahwa itu fiksi, tapi mereka tak bisa mengelak bahwa itu termasuk fiksi positif.

Baca Juga :  Lebih Dari 500 Daerah Sudah Merelokasi APBD Untuk Penanganan Covid-19

Satu di antara simbol yang dirayakan setiap tahun di seluruh dunia bertengger di angka empat belas Februari. Masih belum jelas latar belakang tanggal itu ditetapkan sebagai hari berkasih-kasihan, tapi kalau ingatan saya tidak berdusta, kisah itu berkisar tentang tragedi seorang bernama Valentino. Kisah Valentino ialah salah satu bukti cinta yang kuat biasanya muncul dalam tragedi, yang kata Aristoteles, adalah proses katarsis diri (penyucian jiwa). Kita bisa lihat itu dari epos Layla-Majnun maupun Romeo-Juliet; seolah-olah cinta jauh lebih kuat daripada maut. Dan dari kisah-kisah besar tentang cinta, selalu kita temukan harapan dan keberanian, selalu kita dapat menemukan seratus mengapa untuk menjawab seribu bagaimana (sebagaimana ujar Nietzche: hanya mereka yang mengetahui mengapa yang bisa menjawab bagaimana).

Di Indonesia sendiri Valentine disambut dengan jargon “bukan budaya kita”. Jargon itu kerap bergema acap kali kita ketemu dengan perayaan tahun baru, Halloween, dan semacamnya. Seolah ada yang namanya “budaya kita”. Sebab bila kita jujur, bukankah sebagian besar tanggal merah yang mewarnai kalender adalah produk import dari luar Indonesia? Lebih dari itu, kita mungkin perlu merenungi fakta bahwa nama Indonesia sendiri pun tak diciptakan oleh pribumi.

Beberapa yang lain meramaikan Valentine dengan selebaran, brosur, atau spanduk bertulis “Indonesia tanpa pacaran” atau “budaya orang kafir” atau “hari perzinahan” atau sejenis itu. Mereka barangkali akan mengungkit konsep tasyabuh (barang siapa menyerupai satu kaum, maka ia bagian dari kaum itu) tanpa disertai dengan asbab al-nuzul hadisnya. Toh mereka menolak Valentine atas dasar rasa cinta kepada dogma agama yang mereka kepal. Dengan kata lain, mereka yang ramai-ramai menolak Valentine sebenarnya lagi merayakannya meski tidak dengan cokelat atau bunga; mereka lagi mengekspresikan cinta di hari Valentine dengan menentang Valentine.

Baca Juga :  Ikhlas sebagai Manifestasi Keridhaan Sang Penguasa Takdir

Jadi sebenarnya sama saja. Baik yang bersepakat dan tidak bersepakat dengan Valentine, sedang merayakan cinta dengan bahasa mereka masing-masing. Sebagaimana pelajaran yang saya petik dari ibu: cinta itu universal sebagai realitas yang mendahului bahasa, tetapi relatif-partikular sebagai tafsir. Di hari Valentine, setiap orang boleh mengekspresikan yang universal itu dengan cara santuy atau ngegas, dua-dua dibolehkan.

Kita tentu bisa memakai pelbagai kutipan dari para filsuf yang bijaksana untuk bicara panjang lebar soal cinta ini. Tapi bagaimana pun, cinta tetap adalah bahasa yang tak terbatas. Sebagaimana filsafat yang berakar dari kata phillo yang artinya cinta tetapi filsafat tidak pernah bisa mendefinisikan cinta sampai hari ini. Sebab sebagaimana Tuhan, bagaimana bisa kita membicarakan yang tak terbatas dengan bahasa yang terbatas?

Cinta tetap diekspresikan sesuai dengan level gagasan masing-masing tiap orang yang senantiasa berbeda-beda. Bila Anda suka budaya populer, Anda mungkin mengungkapkannya dengan “I love you 3000”. Bila Anda seorang yang Islami Anda akan bilang “’ana uhibbuki fillah 3000”. Bila Anda berasal dari budaya Bolaang Mongondow saya akan bilang “akuoi moibog koinimu 3000”. Ketiga-tiga itu punya makna yang sama, tapi diungkapkan dengan bahasa berbeda. Sebagaimana bahasa kasih ibu di mata kakak saya adalah “jaga kesehatan” atau bahasa kasih ibu kepada kami adalah video bebek yang memberi makan mujair-mujair atau bahasa kasih bapak adalah lelucon garing yang membuat kami takut menjadi anak durhaka kalau tidak tertawa atau bahasa kasih saya kepada kalian adalah tulisan ini yang sangat sederhana.(*)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
a
To Top