.
Opini

Ikhlas sebagai Manifestasi Keridhaan Sang Penguasa Takdir

Ikhlas sebagai Manifestasi Keridhaan Sang Penguasa Takdir Opini
Indah Cipta Kusumawardhani Gobel
Kroniktotabuan.com

Merayakan Kehilangan Bersama Penguasa Takdir Dan Makna Keikhlasan

Oleh: Indah Cipta Kusumawardhani Gobel

Secara bahasa pengertian ikhlas bermakna bersih, murni dan khusus. (Mukthar As-shihah: 163). Sementara dalam kesempatan yang lain, Prof. Dr. Quraish Shihab pernah mengungkapkan dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi bahwa definisi ikhlas itu sendiri adalah “Mengeluarkan sesuatu dari sesuatu yang bukan esensinya”. Ini termaknai dengan kesimpulan bahwa ikhlas terjadi ketika seseorang benar – benar memurnikan jiwa, akal dan perasaannya terhadap sesuatu dan tidak bercampur dengan apapun selain daripada dzat Tuhan itu sendiri.

Keadaan yang semula ternodai menjadi keadaan yang suci dan murni tanpa bercampur dengan apapun. Keadaan yang mampu menjadikan jiwa kosong dari noda kehidupan yang sering membelit kehidupan manusia.

Ikhlas sendiri tidak dicapai hanya dengan sekedar membaca literatur pustaka bertemakan ” Makna Ikhlas” yang ada di perpustakaan maupun di mesin pencaharian kata otomatis dalam dunia maya. Ikhlas tidak demikian mudah didapatkan di supermarket/pasar swalayan terdekat. Ikhlas pun tidak dideklarasikan secara terbuka kepada khayalak ramai sehingga kita bisa mengetahui letak ikhlas sebenarnya ada dimana. Tidak demikian.

Sifat ikhlas yang sulit mendominasi manusia menjadi sebuah tantangan untuk setiap manusia – manusia pilihan Tuhan yang ingin mencapai titik kedamaian sempurna dalam dunia. Oleh karena merupakan sebuah tantangan, dengan demikian sangat sulit seorang insan/manusia mampu mencapai derajat keikhlasan yang sebenar – benarnya ikhlas. Karena sejatinya ikhlas terlalu dekat dengan Dzat Tuhan maka Perlu proses yang panjang hingga sampai pada derajat keikhlasan yang sebenar-benarnya ikhlas. Ada sebuah frasa yang menyebutkan bahwa “Ikhlaslah kamu seperti Surat Al-Ikhlas yang tak pernah menyebutkan kata ikhlas di dalamnya. Ikhlas tak terlihat, tak tergambarkan. Ia hanya terasa didalam hati”. Frasa tersebut menjadi terkenal sebagai penggambaran betapa sulitnya manusia mencapai standar keikhlasan yang sebenarnya.

Banyak sekali insan yang berkoar – koar tentang keikhlasan namun nyatanya belum mampu mengimplementasikan makna keikhlasan yang sebenarnya dalam kanvas hidupnya. Bukti konkret implementasi dari keikhlasan itu sendiri dapat pula dilihat dalam fragmen surat Al – Ikhlas yang tercantum dalam Kitab Suci Al-Qur’an, dimana ayat tersebut menjadi bukti atas bentuk keesaan Allah yang Maha Segalanya, yang sebelumnya banyak umat terdahulu beranggapan bahwa Tuhan adalah sosok yang begitu lemah, penuh kekurangan, bergantung dengan sesuatu yang lain, bahkan diklaim memiliki anak dan diperanakkan.

Ayat tersebut hadir sebagai pembersih anggapan kotor manusia lemah yang tidak mengakui Keesaan Allah. Ayat tersebut menjadi oase segar bagi manusia yang merasa ragu bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Tinggi sekalian Alam.

Manusia yang sebelumnya ternodai dengan keraguan atas keesaan Allah kembali yakin dan menjadi ridha bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa, Tuhan yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Tuhan yang Maha kuasa dan tidak bergantung dengan apapun selain Dzat Tuhan itu sendiri.

Sulitnya mencapai standar keikhlasan yang sebenarnya bukan berarti seorang manusia tak mampu menggapai ikhlas. Ikhlas akan lebih banyak hinggap pada insan yang sebelumnya merasakan patah hati, rapuh hati, kehilangan yang dikasihi, hingga keadaan jiwa yang tidak tenang. Mengapa demikian? Karena ketika seorang manusia merasakan klimaks kepedihan dalam hidupnya, pasti jalan keluar paling absolut adalah dengan merengek pada Tuhan.

Berusaha menarik simpati Tuhan dengan berkeluh kesah agar segala masalahnya diberi solusi. Hingga pada akhirnya ada sugesti perasaan tenang dalam diri, terlihat merasa “Ikhlas” dan mulai merasa mampu merelakan apapun bentuk masalah tadi sebagai bentuk Teguran Tuhan yang mungkin rindu pada umatNya yang mulai jauh dari-Nya.

Namun nyatanya keadaan demikian belum sempurna dikatakan ikhlas jika rasa rela dan besar hati tadi masih bercampur dengan perasaan lain selain daripada Dzat Tuhan itu sendiri. Ikhlas akan ternilai sempurna ketika hati, jiwa, akal dan fikiran murni rela dan bebas dari apapun yang memberatkan, rela terlepas secara utuh dari apapun yang membelenggu, suci dari kekotoran apapun sehingga yang dirasa dari puncak keikhlasan tadi adalah kedamaian jiwa yang hakiki.

Itulah mengapa ikhlas begitu dekat dengan Dzat Tuhan, karena hanya insan terpilihlah yang mampu kembali kepada Tuhannya dalam keadaan jiwa yang tenang dan diridhai (Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr 27-30).

Demikianlah makna keikhlasan itu sendiri adalah keadaan jiwa dan akal yang sebelumnya telah bercampur dengan segala sesuatu (kesakitan, kerapuhan, ketamakan, kesombongan, keangkuhan, dsb.) menjadi keadaan yang tidak bercampur dengan apapun selain daripada bentuk kerelaan murni untuk Dzat Tuhan itu sendiri.

Ridha dengan segala ketentuan dan ketetapan semata – mata hanya untuk Tuhan Semesta Alam. Ikhlas tidak pernah menuntut untuk dideklarasikan dengan lisan saja. Ikhlas tidak membutuhkan pembuktian hanya dengan bentuk susunan kalimat. Ikhlas tidak berada diantara jiwa – jiwa yang angkuh. Ikhlas tidak pernah bertumpuk diantara gelimangan harta benda. Ikhlas tidak berdampingan dengan kesombongan. Ikhlas tidak bersahabat dengan jiwa – jiwa yang berpenyakit hati.

Sejatinya, Ikhlas adalah teman bagi perindu ketenangan jiwa. Ikhlas adalah manifestasi Tuhan dalam keridhaan. Ikhlas akan selalu melangkah bersama jiwa – jiwa penggapai ridha Tuhan. Ikhlas akan selalu menyatu dengan hati dan akal yang luas tanpa cacat. Dan Ikhlas akan selalu tunduk bersama para pecinta Dzat yang Maha Ikhlas. Begitu dekatNya ikhlas dengan Dzat Pencipta, maka tak perlu ada kesedihan ketika menyambut ikhlas. Yang ditinggalkan berbesar hatilah.

Yang disakiti berbahagialah. Karena sesungguhnya Tuhan selalu menjanjikan bahwa sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. Tuhan tidak pernah memberikan kepedihan yang berlarut tanpa penawar yang menyejukkan untuk mengobati. Berbanggalah wahai diri jika ikhlas sudah menetap dalam darah dan dagingmu. Karena hanya bagi mereka yang mampu mengimplementasikan sifat Tuhanlah yang akan dicintai Tuhannya.

Dan hanya bagi mereka yang mampu mencapai tahap ikhlas yang sebenar-benarnya ikhlaslah yang diizinkan untuk ikut merayakan bentuk kehilangan bersama-Nya, Sang Penguasa Takdir.

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

To Top