Opini

Sudahkah Indonesia Merdeka? 

Sudahkah Indonesia Merdeka?  Opini
Arvah Mansyur
Kroniktotabuan.com

Oleh : Arvah Mansyur, Mantan Ketua Umum PPMIBU

Ketika setiap akan memasuki tanggal dan bulan kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang selalu terdengar di telinga kita.

“Benarkah kita ini bangsa yang sudah merdeka?” tanya beberapa orang yang itu tidak asing kita dengar dan selalu mereka ucapkan.

Pertanyaan di atas bukanlah sebuah soal yang kalau kita jawab bisa memuaskan setiap orang yang bertanya. Karena definisi tentang “merdeka” tidak hanya terbatas pada satu terminologi saja.

Seyogianya adalah, kita semua perlu bersepahaman bahwa, kata merdeka harus kita tafsirkan sebagai kata yang punya arti juang. Yakni, dia adalah kata kerja dan bukan kata sifat.

Kalau kata kerja, berarti disitu kita melanjutkan perjuangan, terus melakukan perubahan, dan kalau kata sifat, berarti hanya sebatas merespon dengan perasaan atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa terdahulu.

Merdeka atau belum, yang jelas para pahlawan kita, dengan segala perjuanganya, telah mengantarkan Indonesia dan mencatatkan dalam sejarah bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 negara kita Indonesia telah merdeka.

Namun, ingat! Mereka sebut hanya “merdeka”. Mereka tidak menyebutkan apa dan bagaimana merdeka itu. Ini yang jadi obrolan panjang sehingga melahirkan pertanyaan “apakah kita ini sudah merdeka atau belum.”

Langsung saja kita bantu jawab, biar itu tidak menjadi tambah-tambah urusan. Dan kita kira semua akan bersepakat bahwa, “kita memang sudah merdeka.” Ya sudah merdeka.

Akan tetapi, ingat pula, sudah merdeka saat ini yang kita sepakati adalah, keadaan dimana terlepasnya kedaulatan tanah air dari kekangan bangsa penjajah. Yakni: Portugis, Spanyol, Prancis, Inggris, Belanda ataupun Jepang.

Kita belum mencapai hakikat kemerdekaan, paling tidak pun mendekatinya belum juga demikian.

Masih terlalu jauh dan banyak persoalan sekarang yang perlu untuk kita selesaikan.

Masalahnya mulai dari tentang mahalnya biaya pendidikan, etika dan moral para pemangku jabatan yang tidak karuan, soal Gubernur dengan segudang janjinya yang sampai sekarang belum juga tertunaikan, belum lagi dengan kampanye hitam yang ingin ganti pancasila, ingin ganti sistem negara, pokoknya masi terlalu banyak persoalan yang wajib untuk kita kasih jawaban.

Sebenarnya, persoalan diatas lebih sedikit mengarah pada tanggung jawab negara, dalam hal ini adalah pejabat elit bangsa. Karena mereka sudah ada yang diberikan mandat atas penyelesaian sengketa etis, masalah moral, dan problem sosial yang demikian.

Namun, bukan berarti masyarakat juga tak punya kewajiban tentang menjadi aktor yang berperan bersama pemerintah dalam menyelesaikan masalah, tidak demikian. Kita semua bisa terlibat berdasarkan jalan dan peran setiap individu masing-masing.

Karena dengan itu, kita generasi yang lahir pasca tahun empat lima, ini bisa menuju hakikat kemerdekaan itu sendiri. Pun demikian, tentang pertanyaan “apakah kita ini sudah merdeka atau belum” bisa pula terterangkan dengan cara mendedikasikan diri pada bangsa sendiri.

MENGISI KEMERDEKAAN

Untuk merayakan kemerdekaan, banyak istrumen yang bisa kita pakai. Dan hal yang paling tepat dalam merayakan kemerdekaan adalah dengan mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Banyak orang bertanya, “bagaimana mengisi kemerdekaan itu?” Tentu jawaban terbaiknya adalah dengan meneguhan prinsip yang luhur, mengsungguhkan niat baik dalam kerja, untuk mencapai manfaat sosial bagi lingkungan sekitar.

Memulai langkah awal, simpel saja. mulailah dari diri kita sendiri. jangan pernah menunggu orang lain dulu berbuat, baru kita yang kemudian melakukanya. Sudah seyogianya, membangun kesadaran kolektif harus berawal dari kesadaran diri sendiri.

Pribadi yang sadar akan arti kemerdekaan, berarti mengetahui bagaimana mengisinya. Memulai dari diri sendiri dalam mengisi kemerdekaan, adalah contoh komitmen pada wujud luar dan itu juga cara menularkan bagaimana mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Intinya, untuk mengisi kemerdekaan perlu dimulai dari pribadi sendiri, mengajak teman lain, kelompok sekitar, dan pada ahirnya semua sadar betul bahwa kata merdeka itu tidak hanya sebatas untain kata yang tiada arti.

Kata merdeka punya filosofisnya sendiri, untuk mencapai kemerdekaan, kita perlu dan harus memperjuangkanya. Dalam mengisinya, perlu dimulai dari sejak dini, dan semua orang harus berupaya untuk melalukanya.

Kata bung karno “resapkanlah, endapkanlah, renungkanlah, bahwa kita ini sudah merdeka. Apa artinya puluhan-tahun dalam sejarah tergantung saudara-saudara, tergantung dari peranan kita kepada sejarah.

Manakala kita melempem, manakala jiwa kita lembek, manakala kita menyerah sebagai obyek sejarah dan tidak berusaha menjadi subjek sejarah, jangankan puluhan tahun kita merdeka, dua ratus tahun sekalipun akan tertancap dalam debu sejarah sebagai bukan apa-apa. Ya, bukan apa-apa

Tapi manakala kita berlawan, berjuang, menjebol, membangun, mendestruksi, mengkonstruksi, berfantasi, berkreasi, dan manakala kita berjiwa elang rajawali serta bersemangat banteng, itulah kita pantas disebut pejuang sebagaimana dulu kita membuktikannya.

Maka, jangankan puluhan tahun, dua tahun saja pun, tapi dua tahun yang dahsyat, demikian itu akan tercatat abadi dalam sejarah dan akan abadi sebagai teladan.”

Jadi, untuk kamu yang ingin mendedikasikan diri sebagai representasi nilai juang dalam mengisi kemerdekaan, maka isilah kemerdekaan itu sesuai dengan cara dan diri anda sendiri.

Kalau Anda pejabat publik, bekerjalah se profesional mungkin, kalau Anda sebagai pelajar/mahasiswa, belajarlah dengan giat serta sungguh-sungguh, jika Anda sebagai nelayan, petani, pedagang, buruh, atlit, desiner, artis, atau memiliki pekerjaan lainya, maka dedikasikanlah peran itu sebagai tanda kecintaanmu pada tanah air dan menjadi tanggung jawab etis atas kemerdekaan yang sekarang kita punya.

Sudah saatnya, kita sebagai bangsa Indonesia, kembali pada khittah perjuangan sebelumnya. Yakni menuju bangsa yang merdeka,  bersatu, berdaulat adil dan makmur.

Di dalam diri kita, sudah seharusnya perlu kembali ditancapkan nilai nasionalisme dan patriotisme, hal itu tentu untuk menumbuhkan kecintaan dan rasa memiliki terhadap tanah air. Agar kedepanya bangsa kita menuju kemerdekaan yang hakiki, dan dapat berkembang serta maju tanpa ada yang menghalangi.

Dirghayau Indonesia Ke-74

Indonesia maju, Indonesia Sejahtera, rakyat aman, damai, bahagia, dan sentosa. merdeka, merdeka, merdeka.

Indonesia, 17 Agustus 2019.

(*)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top