Berita Daerah

Tokoh Pendidikan dan Agama Bicara Soal Video Ciuman Bibir Siswa SMA

Foto Berita Daerah
Foto Berita Daerah

Hamri Manoppo dan Yusf Danny Pontoh

KOTAMOBAGU– Aksi berani sepasang siswa di SMA Negeri 1 Kotamobagu yang ciuman bibir terekam kamera video. Aksi itu tergolong berani karena dilakukan di lingkungan sekolah dan disaksikan beberapa siswa lainnya. Durasinya cukup panjang hingga tiga menit.


Sontak saja itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Tokoh pendidikan dan agama di Kotamobagu pun angkat bicara. Mereka prihatin mengetahui ada aksi seperti itu dilakukan siswa di sekolah.

“Perkembangan seksual adalah perkembangan alami yang tak bisa disangkal. Gejolak puber dialami oleh manusia normal. Tapi disayangkan bisa terjad pada saat masih jam sekolah. Di sini pendidikan moral, etika serta peran kepala sekolah terutama guru bimbingan konseling (BK) diperlukan sekali agar tidak lagi ada seperti itu,” kata Pemerhati Pendidikan Kotamobagu Hamri Manoppo, Selasa (22/8).

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kotamobagu ini mengatakan, tugas guru untuk bisa mengarahkan, proaktif dalam memantau setiap gerak gerik siswanya.

“Saya kira pemberian kegiatan-kegiatan yang dapat menampung energi gejolak siswa harus diutamakan juga. Dengan mengarahkan ke hal yang positif, hal-hal begini bisa dicegah. Dan itu adalah tugas mulia guru. Jadikan ini pembelajaran bagi guru untuk lebih maksimal lagi mengawasi sebelum hal yang lebih parah akan terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kotamobagu Yusuf Dany Pontoh mengatakan, pembelajaran akhlak yang baik, pendekatan agama yang konsisten terhadap pertumbuhan siswa perlu diterapkan di sekolah untuk mencegah siswa melakukan kegiatan negatif.

“Peristiwa ini harus dijadikan sebagai bahan telaan oleh sekolah, baik dari sisi pembinaan mental dan spiritual. Tidak boleh dibiarkan agar tidak dianggap lumrah. Berikan pembinaan dan pengawasan serius kepada semua siswa, bukan hanya kepada yang sudah melakukan” ujar Pontoh.

Dia juga melihat ketidakseimbangan antara tenaga guru dan siswa di sekolah membuat pengawasan tidak akan maksimal sehingga terjadi aksi siswa yang cenderung negatif.

“Harapan ke depan, semoga dunia pendidikan kita lebih baik dan terhindar dari berbagai gejolak yang negatif,” katanya.(rez/rab)

To Top