
KOTAMOBAGU– Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kotamobagu akan lebih selektif memilih mitra kerja mereka termasuk dengan media massa baik cetak maupun online. Hal itu guna memenuhi kewajiban Diskominfo terkait kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang mereka kelola.
Salah satu kebijakan yang akan diterapkan Diskominfo mulai 2018 mendatang adalah memutus kerja sama dengan media yang suka plagiat. Untuk media cetak, tim verifikasi berita akan dibentuk untuk mendeteksi aksi plagiat. Selain itu sebaran media juga akan diteliti melalui metode survei.
“Sedangkan media online ada sistem yang sedang kami kembangkan. Melalui sistem itu, langsung ketahuan mana yang lakukan plagiat. Artinya hanya copy paste berita media lain dan diposting untuk kepentingan dimasukan saat penagihan di Kominfo,” kata Kepala Diskominfo Kotamobagu Ahmad Yani Umar, Selasa (29/8) usai meninjau kesiapan data center yang akan diresmikan dalam waktu dekat.
“Untuk media online akan kita buat juga indikatornya. Misalnya jumlah kunjungan per hari, bulan dan tahun boleh berapa banyak. Apakah beritanya update, wartawan yang bertugas di Pemkot Kotamobagu ada dan turun meliput setiap kegiatan Pemkot atau tidak. Paling penting juga kelengkapan administrasi perusahaan media itu sendiri. Kira-kira seperti itu gambarannya,” bebernya.
Yani menjelaskan, kebijakan ini agar kerja sama antara pemerintah dan perusahaan media menghasilkan timbal balik yang sesuai. “Untuk apa kerja sama dengan perusahaan media tapi yang mereka kerjakan hanya hasil plagiat? Kemudian akan dibuat grade media untuk kerja sama,” katanya.
Penanggung Jawab Media Center Pemkot Kotamobagu Rudy Yuanto Unu menambahkan, sistem yang akan dikembangkan oleh timnya akan dengan cepat mendeteksi media online yang suka plagiat.
“Dia (sistem) bisa otomatis semuanya. Jadi media online yang plagiat, semuanya bisa terbaca. Mulai dari kapan waktunya, dari media mana berita itu diambil, pukul berapa, lokasinya di mana. Semuanya bisa kita tahu. Itu juga berlaku bagi media sosial lainnya. Bisa tersaring mana informasi yang mengandung kebencian dan yang positif. Sistem ini kita luncurkan setelah data center diresmikan,” kata Rudy. (rez/rab)




