Berita Nasional

Kapolri Pertama Beristri Putri Bolaang Mongondow Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Kapolri Pertama Beristri Putri Bolaang Mongondow Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Soekanto dan Lena Mokoginta. (internet)

JAKARTA- Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 nanti, Presiden RI Joko Widodo akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kepala Kepolisian RI ( Kapolri) pertama Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Raden Said Soekanto.

Soekanto menjadi orang kedua yang diangkat sebagai pahlawan nasional dari kepolisian setelah Komisaris Jenderal Polisi Dr. H. Moehammad Jasin.

Informasi yang dibagikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, penganugerahan gelar tersebut akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada 10-11 November 2020.

Kapolri pertama ini memiliki hubungan sangat kuat dengan Bolaang Mongondow (Bolmong). 21 April 1932 Soekanto menikah dengan Bua Hadjijah Lena Mokoginta, teman sekolah adik Soekanto di MULO, yakni Soenarti.

Lena Mokoginta gadis Sulawesi Utara dari Bolaang Mongondow, kakak dari Letnan Jenderal Ahmad Junus Mokoginta.

Lena Mokoginta adalah anak dari Perdana Menteri Kerajaan Bolaang Mongondow yang menetap di Jakarta setelah orang tuanya dikucilkan Belanda dari daerahnya. Mereka menikah pada tanggal 21 April 1932.

Bua Hadijjah Lena Mokoginta meninggal dunia pada 1 Maret 1986. Sedangkan Soekanto meninggal 24 Agustus 1993.  Makam keduanya ada di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kiprah Soekanto

Soekanto dilantik sebagai Kepala Kepolisian Negara (KKN) oleh Presiden Soakrno pada 29 September 1945. Posisi Kapolri pun tetap ia jabat setelah Negara Kesatuan RI dibentuk pada 17 Agustus 1950 dan diberlakukannya UUDS 1950 dengan sistem parlementer. Soekanto bertanggung jawab kepada perdana menteri/presiden.

Pria kelahiran Bogor, 7 Juni 1908, tersebut adalah orang di balik berdirinya Markas Besar Kepolisian RI di Jakarta Selatan yang kita kenal sekarang. Selama kepemimpinannya, pada tahun 1955, ia yang meresmikan motto Polri, yaitu Tri Brata dan Catur Prasetya.

Motto itu adalah ciptaan Prof Djoko Sutono SH. Pendirian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta juga tak lepas dari campur tangan Soekanto. Bersama Prof Djoko Sutono SH, Prof Supomo, dan Sultan Hamengku Buwono IX, Soekanto mendirikan PTIK yang dulu disebut Akademi Polisi di Mertoyudan.

Tujuan dibentuknya Akademi Polisi kala itu adalah untuk mencetak polisi yang pandai, modern, dan tanggap pada kemajuan zaman. Masih terkait pendidikan, Soekanto mengirimkan banyak perwira Polri untuk belajar kepolisian di Amerika Serikat.

Perwira tersebut antara lain Hoegeng Imam Santoso, Awaloedin Djamin, Mohammad Hasan, dan Widodo Budidarmo, yang semuanya pernah menjadi Kapolri.

Di sisi lain, tercatat pula peran Soekanto dalam pembentukan sejumlah kesatuan di institusi kepolisian.

Soekanto memelopori pembentukan Brigade Mobil (Brimob), pasukan khusus Polri; mendirikan pusat pendidikan Brimob di Porong; serta Satuan Polisi Perairan dan Udara.

Selama mengemban jabatan sebagai Kapolri, Soekanto sempat menyatakan keberatan terhadap rencana Presiden Soekarno membentuk ABRI yang terdiri dari Angkatan Perang dan Angkatan Kepolisian.

Alasan keberatan Soekanto adalah demi menjaga profesionalisme kepolisian. Baca juga: Mengenal Kapolri Pertama Indonesia, Raden Said Soekanto. Akan tetapi, ABRI kemudian terbentuk melalui Tap MPRS Nomor II dan III Tahun 1960. Berdasarkan aturan itu, ABRI terdiri atas Angkatan Perang dan Polisi Negara.

Pada tahun sebelumnya, tepatnya pada 15 Desember 1959, Soekanto telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kapolri/Menteri Muda Kepolisian.

Pangkat terakhir Soekanto adalah komisaris jenderal polisi atau letnan jenderal. Pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal polisi (purnawirawan) pada tahun 1968.

Jujur dan sederhana

Soekanto dikenal sebagai sosok yang jujur dan sederhana selama menjabat sebagai Kapolri. Hal itu terlihat dari rumah yang ditempati Soekanto. Ia hanya mempunyai sebuah rumah sederhana di Kompleks Polri Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Ketika sudah pensiun, Soekanto tinggal di rumah yang ia sewa di kawasan Jakarta Pusat. Soekanto meninggal di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 24 Agustus 1993 dalam usia 85 tahun.

Ia sebenarnya berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Namun, Soekanto memilih dimakamkan dalam satu liang bersama istrinya, Hadidjah Lena Soekanto-Mokoginta, yang berpulang pada 1 Maret 1986. Proses pemakaman secara militer di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan, kala itu dihadiri sejumlah petinggi negara.’

Sebuah pujian datang dari Kapolri periode 1968-1971, Jenderal Pol (Purn) Hoegoeng Imam Santoso yang menyebut Soekanto adalah sosok teladan.

Menurut Hoegeng, Soekanto memberi contoh bagaimana seorang polisi harus jujur dan mengabdi kepada masyarakat.

“Tanpa Pak Kanto, polisi sudah berantakan,” ucap Hoegeng. (*)

 

Sumber: berbagai sumber

.
To Top