• Berita Terbaru Sulawesi Utara, Totabuan, Indonesia – KronikTotabuan.com
Rabu, Maret 4, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
kroniktotabuan.com
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
No Result
View All Result
kroniktotabuan.com
No Result
View All Result
Home Pojok Penulis

18 Tahun Lalu, Megawati Jadi Presiden Perempuan Pertama

by Rensa
Juli 23, 2019
in Pojok Penulis
A A
0
18 Tahun Lalu, Megawati Jadi Presiden Perempuan Pertama
500
VIEWS
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

JAKARTA – 23 Juli 2001 tercatat merupakan tanggal yang cukup bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau dikenal dengan nama Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai presiden perempuan pertama di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

RelatedPosts

Mencegah Jatuh Pada Lansia dengan Balance Exercise

Pemanfaatan Media Elektronik dalam Proses Belajar Mengajar di SMP N 5 Lolak

PRINSIP DASAR KEUANGAN SYARIAH & LAPORAN KEUANGAN ENTITAS (BANK) SYARIAH

Pelantikan Megawati yang digelar Senin (23/7/2001) sore tak disambut perayaan meriah oleh pendukungnya.

Bahkan kantor DPP PDI Perjuangan yang kala itu terletak di kawasan Pacenongan tidak ada perayaan yang meriah.

“Kita tentu saja gembira dengan pengangkatan Mbak Megawati. Hanya saja, seperti pesan Mbak Megawati, kegembiraan ini tidak boleh ditunjukkan secara berlebihan,” demikian Henny Kumbariyam (37), Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta seperti yang dikutip melalui laman kompas.com.

Bagi Jimmy Aryana Semeth (43), korban kasus 27 Juli yang ditemui di bekas Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, kemenangan Megawati ini terasa biasa-biasa saja dan tidak perlu dirayakan secara berlebihan.

“Memang sudah haknya, meski saya lebih senang Mbak Megawati jadi presiden tahun 1999 lalu atau 2004 sekalian.” Ungkap Jimmy.

Suasana politik yang mewarnai pelantikan Megawati kala itu memang tak elok untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan. Di Istana Negara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dilengserkan MPR tengah meradang.

Ia tidak menerima keputusan MPR yang mencabut mandatnya sebagai presiden. Relasi personal para tokoh reformasi memanas. Hubungan baik Gus Dur dan Megawati meruncing. Amien Rais yang semula menolak Megawati sebagai Presiden berbalik angin.

Situasi politik dan ekonomi pasca-reformasi juga terasa tidak menentu akibat kepemimpinan Gus Dur yang penuh kontroversi. Gus Dur berseteru hebat dengan DPR saat menyebut DPR seperti Taman Kanak-kanak. Gus Dur pun sempat mengeluarkan dekrit pembubaran DPR. Manuver Gus Dur disambut dingin. Mahkamah Agung memutuskan dekrit yang dikeluarkan Gus Dur bertentangan dengan hukum.

Baca Juga  Tatong Bangga dengan Komitmen PDI Perjuangan

Lalu, hari ini 18 tahun lalu, parlemen yang berseberangan dengannya bersatu kubu dengan Megawati, wakilnya menahkodai negeri. Gus Dur ditinggal pergi. Sendiri. Itulah kenapa kemenangan Megawati atas kursi presiden berlangsung sunyi.

Takdir yang tertunda Perjalanan Megawati ke kursi RI 1 sungguh tak mulus. Dua tahun sebelum pelantikan itu, Megawati sebenarnya adalah sosok yang dielu-elukan sebagai presiden pengganti BJ Habibie.

Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Orde Baru yang tumbang pada 21 Mei 1998. Menjelang kejatuhan Orde Baru, Megawati berhasil menguasai Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan mengubahnya menjadi PDI Perjuangan.

Dukungan untuk Megawati sebagai bentuk perlawanan terhadap Soeharto kala itu tak terbendung. Sayangnya, di Pemilu 1999 Megawati gagal jadi presiden. Padahal, saat itu PDI Perjuangan menjadi partai pemenang dengan meraih sekitar 36 juta suara atau hampir 34 persen.

Saat itu presiden belum dipilih langsung oleh rakyat, masih dipilih oleh MPR. Pemilihan presiden yang dilakukan MPR diwarnai tarik menarik kepentingan. Ada dua kubu yang bersaing di MPR, yaitu PDI Perjuangan dan kubu Partai Golkar yang dinilai sebagai pewaris Orde Baru.

Amien Rais yang kala itu masih memimpin Partai Amanat Nasional (PAN) mulanya satu kubu dengan Mega sebagai penggerak reformasi. Namun, ia “menelikung” Megawati di tengah jalan dengan membentuk Poros Tengah.

Poros Tengah terdiri dari partai-partai Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa, PAN, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Keadilan (sekarang menjadi PKS). Mereka menolak Megawati menjadi presiden dengan alasan gender.

Dikutip dari catatan harian Kompas,  27 Juni 1999, berjudul “Dibahas, Jalan Tengah Pencalonan Presiden”, PPP maupun PK tetap pada pendiriannya menolak presiden dari kalangan perempuan.

Baca Juga  Dukungan Terus Mengalir, Gita Tuuk Makin Percaya Diri

Menurut Ketua Umum PPP Hamzah Haz, PPP berpegang pada fatwa ulama yang tidak memperbolehkan wanita menjadi presiden.

“Kalau Mbak Megawati jadi presiden, kami tidak bersedia duduk dalam pemerintahan,” kata Hamzah kala itu.

Poros Tengah pun mengantarkan Gus Dur sebagai presiden, mengalahkan Megawati dalam voting MPR. Gus Dur meraih 373 suara, sementara Megawati 313 suara. Kendati demikian, Megawati berbesar hati dan tetap menjalani perannya sebagai wakil presiden.

Namun, pada 2001, dinamika politik berbalik arah. Amien Rais yang saat itu merupakan Ketua MPR memotori Sidang Istimewa yang berujung pada jatuhnya Gus Dur. Megawati pun naik menjadi presiden merebut takdirnya yang tertunda.

Dan, Hamzah Haz yang semula menolak Megawati tak lagi buka suara saat MPR memilihnya mendampingi Megawati sebagai wakil presiden. (*)

 

Sumber: gesuri.id

Tags: Megawati SoekarnoputriPDI Perjuangan
Rensa

Rensa

Next Post
Kena Sorotan Wabup, Camat Bilalang Optimis PBBP2 100 Persen

Kena Sorotan Wabup, Camat Bilalang Optimis PBBP2 100 Persen

  • 33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tinggal Tunggu Pergub, Dikda Sulut Jamin TPG 13 dan THR TPG 2025 Segera Dibayarkan ke Guru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Ada Penyimpangan Dana BOS, Para Guru Laporkan Kepala SMA Negeri 2 Kotamobagu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bongkar Korupsi di Bawaslu Kotamobagu, Penyidik Temukan Rp300 Juta untuk Beli 100 Buku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang Kasus Hibah GMIM Berakhir, Ini Putusan Lengkap untuk Lima Terdakwa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Logo Utama
Logo Dewan Pers
Dewan Pers
No: 1014/DP-Verifikasi/K/V/2022 Verified
Logo AMSI
Anggota AMSI
No Result
View All Result
  • Harga Emas Hari Ininew
  • Live StreamingTV
  • Klasemen Sepak Bolanew
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Visi dan Misi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • RSS KRONIKTOTABUAN
  • Karir
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Survei Pembaca

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

No Result
View All Result
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In