• Berita Terbaru Sulawesi Utara, Totabuan, Indonesia – KronikTotabuan.com
Minggu, Januari 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
kroniktotabuan.com
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
No Result
View All Result
kroniktotabuan.com
No Result
View All Result
Home Pojok Penulis

Akuoi Moibog Koinimu 3000

by Rensa
Februari 18, 2020
in Pojok Penulis
A A
0
Akuoi Moibog Koinimu 3000
509
VIEWS
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Tyo Mokoagow

Pernah satu waktu ibu mengirim video seekor bebek mengambil satu per satu makanan ikan untuk disuapi lewat paruhnya ke arah mulut-mulut mujair yang megap-megap. Saya langsung ingat kebiasaan ibu melempar sisa pepaya ke kolam belakang rumah hanya untuk lihat ekspresi ikan menangkap makanan. Lucu, kata ibu.

Pemandangan bebek menyuapi mujair itu membekas cukup lama di benak saya. Bila seekor hewan bisa mengekspresikan bahasa kasihnya melampaui perbedaan spesies dah habitat, kenapa manusia justru bisa saling membinasakan—bukan hanya spesies lain—spesiesnya sendiri?

RelatedPosts

Mencegah Jatuh Pada Lansia dengan Balance Exercise

Pemanfaatan Media Elektronik dalam Proses Belajar Mengajar di SMP N 5 Lolak

PRINSIP DASAR KEUANGAN SYARIAH & LAPORAN KEUANGAN ENTITAS (BANK) SYARIAH

Ibu punya hati selembut awan kapas. Apapun yang datang darinya adalah kasih. Sampai hari ini masih teka-teki bagi saya, sebenarnya apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan hati seorang ibu? Darinya saya belajar, bahwa cinta itu bahasa yang sangat universal, melampaui perbedaan kasta, kelas, bahkan spesies. Tetapi ketika diungkapkan, ia menjadi bahasa yang partikular. Untuk kakak kedua saya, bahasa kasih itu menjelma jadi “jaga kesehatan”. Untuk saya, bahasa kasih itu jadi “jangan begadang”. Kakak pertama saya sendiri sekarang membalas bahasa kasih ibu dengan cucu pertama bernama Arif.

Di antara kakak beradik, sesuai pengakuan ibu, katanya sayalah paling romantis (bakat yang saya yakin terasah setiap kali meminta uang bulanan ke ibu). Dalam keluarga, saya yang paling sering mengingatkan perayaan hari ibu atau hari ayah. Meski begitu, kakak kedua selalu bilang bahwa setiap hari kita patut merayakan rasa sayang kepada orangtua. Cinta memang tidak punya tanggal lahir, dan tak terbatas waktu pun ruang.

Baca Juga  Natal dan Tasyabuh

Tapi kata Emilie Durkheim, simbolisme maupun prosesi itu diperlukan dalam komunitas sosiologis. Simbol membantu solidaritas sosial terekat erat. Seorang Nasrani Evangelis dan Saksi Yehovah bisa menemukan keterikatan emosional bila mereka memegang salib yang sama, tanpa perlu saling mengenal satu sama lain. Seorang bersuku Bolaang Mongondow dan Sunda bisa saling bekerja sama di bawah nama nasionalisme meskipun mereka asing satu sama lain. Simbol membuat umat manusia bisa bekerja sama dalam jumlah besar dan fleksibel. Para pembaca Harari barangkali akan bilang bahwa itu fiksi, tapi mereka tak bisa mengelak bahwa itu termasuk fiksi positif.

Satu di antara simbol yang dirayakan setiap tahun di seluruh dunia bertengger di angka empat belas Februari. Masih belum jelas latar belakang tanggal itu ditetapkan sebagai hari berkasih-kasihan, tapi kalau ingatan saya tidak berdusta, kisah itu berkisar tentang tragedi seorang bernama Valentino. Kisah Valentino ialah salah satu bukti cinta yang kuat biasanya muncul dalam tragedi, yang kata Aristoteles, adalah proses katarsis diri (penyucian jiwa). Kita bisa lihat itu dari epos Layla-Majnun maupun Romeo-Juliet; seolah-olah cinta jauh lebih kuat daripada maut. Dan dari kisah-kisah besar tentang cinta, selalu kita temukan harapan dan keberanian, selalu kita dapat menemukan seratus mengapa untuk menjawab seribu bagaimana (sebagaimana ujar Nietzche: hanya mereka yang mengetahui mengapa yang bisa menjawab bagaimana).

Di Indonesia sendiri Valentine disambut dengan jargon “bukan budaya kita”. Jargon itu kerap bergema acap kali kita ketemu dengan perayaan tahun baru, Halloween, dan semacamnya. Seolah ada yang namanya “budaya kita”. Sebab bila kita jujur, bukankah sebagian besar tanggal merah yang mewarnai kalender adalah produk import dari luar Indonesia? Lebih dari itu, kita mungkin perlu merenungi fakta bahwa nama Indonesia sendiri pun tak diciptakan oleh pribumi.

Baca Juga  Dispertanak Segera Berlakukan Kartu Tani

Beberapa yang lain meramaikan Valentine dengan selebaran, brosur, atau spanduk bertulis “Indonesia tanpa pacaran” atau “budaya orang kafir” atau “hari perzinahan” atau sejenis itu. Mereka barangkali akan mengungkit konsep tasyabuh (barang siapa menyerupai satu kaum, maka ia bagian dari kaum itu) tanpa disertai dengan asbab al-nuzul hadisnya. Toh mereka menolak Valentine atas dasar rasa cinta kepada dogma agama yang mereka kepal. Dengan kata lain, mereka yang ramai-ramai menolak Valentine sebenarnya lagi merayakannya meski tidak dengan cokelat atau bunga; mereka lagi mengekspresikan cinta di hari Valentine dengan menentang Valentine.

Jadi sebenarnya sama saja. Baik yang bersepakat dan tidak bersepakat dengan Valentine, sedang merayakan cinta dengan bahasa mereka masing-masing. Sebagaimana pelajaran yang saya petik dari ibu: cinta itu universal sebagai realitas yang mendahului bahasa, tetapi relatif-partikular sebagai tafsir. Di hari Valentine, setiap orang boleh mengekspresikan yang universal itu dengan cara santuy atau ngegas, dua-dua dibolehkan.

Kita tentu bisa memakai pelbagai kutipan dari para filsuf yang bijaksana untuk bicara panjang lebar soal cinta ini. Tapi bagaimana pun, cinta tetap adalah bahasa yang tak terbatas. Sebagaimana filsafat yang berakar dari kata phillo yang artinya cinta tetapi filsafat tidak pernah bisa mendefinisikan cinta sampai hari ini. Sebab sebagaimana Tuhan, bagaimana bisa kita membicarakan yang tak terbatas dengan bahasa yang terbatas?

Cinta tetap diekspresikan sesuai dengan level gagasan masing-masing tiap orang yang senantiasa berbeda-beda. Bila Anda suka budaya populer, Anda mungkin mengungkapkannya dengan “I love you 3000”. Bila Anda seorang yang Islami Anda akan bilang “’ana uhibbuki fillah 3000”. Bila Anda berasal dari budaya Bolaang Mongondow saya akan bilang “akuoi moibog koinimu 3000”. Ketiga-tiga itu punya makna yang sama, tapi diungkapkan dengan bahasa berbeda. Sebagaimana bahasa kasih ibu di mata kakak saya adalah “jaga kesehatan” atau bahasa kasih ibu kepada kami adalah video bebek yang memberi makan mujair-mujair atau bahasa kasih bapak adalah lelucon garing yang membuat kami takut menjadi anak durhaka kalau tidak tertawa atau bahasa kasih saya kepada kalian adalah tulisan ini yang sangat sederhana.(*)

Baca Juga  Perihal Pengoperasian Alat UTTP, Disdagkop-UKM Tunggu Lisensi UML
Tags: 2020opinityo mokoagow
selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri
ADVERTISEMENT
Rensa

Rensa

Next Post
Pemuda Moyag Ini Sulap Besi Tua Jadi Mainan Bernilai Ekonomis

Pemuda Moyag Ini Sulap Besi Tua Jadi Mainan Bernilai Ekonomis

  • 33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Ada Penyimpangan Dana BOS, Para Guru Laporkan Kepala SMA Negeri 2 Kotamobagu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang Kasus Hibah GMIM Berakhir, Ini Putusan Lengkap untuk Lima Terdakwa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • YSK Lantik Pejabat Fungsional, Ingatkan ASN Bekerja Nyata dan Tidak Perlu Manuver

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Gembira Bagi ASN Sulut, Gubernur Tegaskan Tak Ada Pemotongan Gaji dan Tunjangan di 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Logo Utama
Logo Dewan Pers
Dewan Pers
No: 1014/DP-Verifikasi/K/V/2022 Verified
Logo AMSI
Anggota AMSI
No Result
View All Result
  • Harga Emas Hari Ininew
  • Live StreamingTV
  • Klasemen Sepak Bolanew
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Visi dan Misi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • RSS KRONIKTOTABUAN
  • Karir
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Survei Pembaca

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

No Result
View All Result
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In