KOTAMOBAGU– Di tengah pandemi Covid-19, penjualan Saraba, minuman tradisional yang kaya bahan rempah makin laris.
Saraba bisa menghangatkan dan menyehatkan tubuh. Bahan utama minuman ini adalah jahe merah.
Selfi Polontalo, penjual Saraba di kompleks Masjid Agung Baitul Makmur Kotamobagu mengatakan, per hari rata-rata 400 gelas Saraba jualannya habis. Sebelum pandemi, terjual rata-rata hanya 150-200 gelas.
“Kami jualan mulai jam 5 sore. Sebelum Covid-19, biasanya kami harus jualan sampai jam 3 dini hari. Sekarang paling telat itu jam setengah satu (00.30 Wita) Wita habis. Bahkan awal-awal Covid-19, jam 9 atau 10 malam sudah habis,” ungkap Selfi, Minggu (8/11/2020) malam.
Harga Saraba bervariasi. Satu gelas besar ditambah madu dan telur ayam kampung Rp17 ribu, satu gelas besar ditambah telur burung puyuh Rp8 ribu, dan Saraba biasa tanpa tambahan telur Rp7 ribu per gelas besar.
Dia mengakui bahwa naiknya penjualan Saraba tak lepas dari beredarnya informasi bahwa Covid-19 bisa dicegah dengan rajin mengkonsumsi minuman hangat yang terbuat dari jahe.
“Makanya saat Saraba naik penjualan, jahe merah juga naik harga jualnya. Biasana Rp25-30 ribu per kilogram, sekarang Rp40-50 ribu,” katanya.
Titon, penjual saraba di Kelurahan Matali juga mengaku Saraba yang dia jual laku keras selama pandemi.
“Rata-rata laku 200 gelas semalam. Ada perbedaan penjualan sebelum Covid-19 melanda,” ucapnya.
Melonjaknya penjualan dan makin diminatinya Saraba oleh warga Kotamobagu, rupanya disertai pula dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dari pelaku usahanya.
Selfi dan Titon sama-sama mengakui bahwa penerapan 3 M (Menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) juga menjadi alasan warga datang membeli Saraba di tempat mereka. (bto)




