Menu

Mode Gelap
Olimpiade Tokyo 2020: Kandas di Tangan Chen Long, Anthony Sinisuka Ginting Gagal ke Final Pesawat Sriwijaya Air Rute Jakarta-Pontianak Hilang Kontak

Berita Politik · 7 Nov 2020 14:12 WITA ·

Bawaslu Sulut Kampanyekan Politik Anti Sara


Bawaslu Sulut Kampanyekan Politik Anti Sara Perbesar

POLITIK — Bawaslu Sulut menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan ormas mengkampanyekan gerakan anti Politisasi SARA dan ujaran kebencian dalam Pilkada 2020.

Politisasi SARA dan ujaran kebencian menjadi ancaman bagi terciptanya pemilihan kepala daerah yang demokratis dan menjunjung nilai solidaritas.

“Karena itu, kami berharap tokoh agama, tokoh masyarakat, OKP dan ormas bisa bergandeng tangan melawan politisasi SARA dan ujaran kebencian,” kata Komisioner Bawaslu Sulut, Supriadi Pangellu dalam Sosialisasi Gerakan Anti Politisasi SARA dan Ujaran Kebencian di BW Lagoon Manado, Sabtu 7 November 2020.

Dia mengatakan, politisasi SARA dan ujaran kebencian selalu muncul di setiap pelaksanaan Pilkada.

“Tujuannya meraih kekuasaan tapi mengancam demokrasi dan memecah belah masyatakat. Karena itu mari kita lawan,” kata Ketua Divisi bidang Hukum Data dan Informasi ini.

Sementara, Zulkifli Golonggom, mantan Komisioner KPU Sulut mengungkapkan, isu SARA dan ujaran kebencian selalu muncul di setiap edisi Pilkada.

“Motif dan modusnya selalu sama. Isu SARA dan ujaran kebencian masih jadi ancaman bagi demokrasi Indonesia,” kata Zulkifli yang membawa materi  Peran Ormas dan OKP dalam Mencegah Politisasi SARA, Politik Uang, Ujaran Kebencian dan Hoax dalam Pilkada 2020

Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sulut ini menambahkan, biasanya isu SARA dan ujaran kebencian selalu diiringi hoaks.

“Ada 91 persen hoaks di media sosial Indonesia itu tentang isu politik pemerintahan,” jelasnya.

Sementara, pemateri selanjutnya  mantan Ketua KPU Bitung, Victory Rottie membawa materi Hak Publik atas Perdamaian Menuju Pilkada.

“Ketika Pilkada menyebabkan pecah belah, friksi di masyarakat, berarti ada yang salah dalam prosesnya,” kata Rottie.

Selain menekankan bahaya politisasi SARA dan ujaran kebencian, ia fokus kepada bahaya di balik politik uang.

“Ketika kita menerima uang, pemberian untuk membeli suara, itu berarti harga diri kita tergadai,” kata akademisi Universitas Negeri Manado ini. (*)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Cak Imin Lantik Yusra Alhabsyi Sebagai Ketua DPW PKB Sulut

4 Februari 2026 - 13:22 WITA

Iskandar-Deddy Kembali Pimpin PDI Perjuangan Bolsel

24 Desember 2025 - 10:04 WITA

Legislator Minta Pemkot Kotamobagu Pastikan Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Stabil Jelang Nataru

9 Desember 2025 - 16:50 WITA

Agus Suprijanta Ingin Hak ASN Tidak Dikorbankan di APBD 2026

9 Desember 2025 - 16:26 WITA

Banggar DPRD Kotamobagu Koreksi Isi KUA-PPAS 2026

9 Desember 2025 - 16:15 WITA

Banggar DPRD dan TAPD Kotamobagu Lanjutkan Pembahasan KUA-PPAS 2026

2 Desember 2025 - 15:50 WITA

Trending di Berita Politik