• Berita Terbaru Sulawesi Utara, Totabuan, Indonesia – KronikTotabuan.com
Senin, Januari 19, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
kroniktotabuan.com
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial
No Result
View All Result
kroniktotabuan.com
No Result
View All Result
Home Berita Hiburan

Lengkebong, Komedi, dan Demotivasi

by Rensa
Oktober 5, 2020
in Berita Hiburan, Berita Kotamobagu, Pojok Penulis
A A
0
Lengkebong, Komedi, dan Demotivasi
511
VIEWS
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh : Tyo Mokoagow

Pegiat Literasi di Komunitas Literasik Kotamobagu dan Rumah Baca

Mata kamera berwarna mendung itu bergerak lambat. Ia menangkap cahaya luar yang menyusup di antara renggang dinding papan yang keropos. Di sana kita lihat nyiru tergantung entah kapan terakhir dipakai, tudung saji yang mungkin tak berisi, serta ceret air dengan tutup sewarna kuning telur. Di luar terdengar ciap-ciap anak ayam mencari ibunya. Sementara, pemilik dapur dengan jilbab hitam sibuk mencari letak suaminya. “Apakah kamu melihat Lengkebong?” Tanya sosok itu tepat ke arah penonton. Dalam adegan ini, saya langsung ingat Dora the Explorer. Meski Dora jelas-jelas tidak berkumis.

Episode ketiga Lengkebong dibuka dengan tempo cepat. Mata kamera tidak stabil menebalkan ketegangan. Tidak ada basa-basi, mereka langsung menembak jantung keresahan yang hendak dsampaikan—tentu saja tanpa melupakan humor lokal yang kental. Kita lalu dipaparkan dengan pertengkaran khas suami istri kelas menengah ke bawah, yakni kemiskinan nasib. Namun Lengkebong tetaplah Lengkebong. Ia seorang pemalas dan banyak akal dari jantung cerita rakyat Bolaang Mongondow.

RelatedPosts

Menanti Juara Baru, Palta United vs Kobo Besar FC di Final Walikota Cup 2025

Respon Permintaan Konsumen! ABRIZT Resmi Buka Layanan Cuci Motor di Kotamobagu

Marabunta FC vs Aruman Jaya, Duel Dua Tim Terluka di Perebutan Juara Ketiga

Lengkebong adalah salah satu tokoh sastra lisan yang sudah tidak banyak diwartakan lagi. Dahulu kultur tutur masih sangat kental di Bolaang Mongondow. Orang tua biasanya duduk di depan kerumunan lalu menceritakan petatah petitih yang dibungkus dalam kisah jenaka sehingga menarik perhatian. Salah satu yang santer berjudul O’uman in Lengkebong (Cerita Tentang Lengkebong). Berkisar tentang anak pemalas dan gemar bertipu daya. Tiap kali disuruh bapaknya kerja, Lengkebong selalu punya seribu satu alasan untuk menolak: sakit kepala, kesemutan, dan macam-macam lagi. Karena bingung anaknya selalu kena sakit bertepatan dengan diajak kerja, bapaknya lantas membawa Lengkebong ke dukun. Di sana, Lengkebong justru dipukuli si dukun karena ketahuan berbohong.

Kisah tersebut terekam sebagai salah satu folklore (cerita rakyat) yang masih bisa diselamatkan zaman. Karena biasanya berbentuk tutur, maka banyak kisah rakyat yang tak terdokumentasikan. Lengkebong adalah pengecualian. Barangkali karena ceritanya bisa sangat relevan bahkan untuk setiap zaman dan ruang.

Baca Juga  Perencanaan Kotamobagu Terbaik di Sulut

Perangai yang kurang lebih persis, bisa kita dapati di Jawa Barat dalam sosok Kabayan. Lengkebong dan Kabayan tak jauh berbeda. Mereka suka melempar atau mempraktikkan lelucon-lelucon absurd tapi terkesan cerdik. Pernah Kabayan diajak oleh mertuanya untuk memetik kacang koro di kebun. Di tengah proses pemetikan, Kabayan sekejap lenyap tanpa aba-aba. Mertuanya berseloroh, “dasar menantu malas!” Barangkali pikir mertuanya, Kabayan sudah pulang atau mencari tempat strategis untuk tidur. Demikianlah karung kacang koro dipagul mertuanya sampai ke rumah. Mertuanya memang tak salah kalau Kabayan mencari tempat strategis untuk tidur, ternyata di dalam karung tersebut ia mendapati Kabayan lagi tertidur pulas. Mertuanya kesal dan marah-marah karena merasa dikerjai oleh Kabayan si pemalas itu.

Setiap budaya besar punya humor lokal. Humor adalah cara kita menertawakan nasib yang kerap kali bak tragedi. Perbedaan antara komedi dan tragedi memang bisa tipis dan tajam, yang dibatasi oleh garis waktu—dalam film besutan Woody Allen, Crime & Misdeamanor, ia dirumuskan dalam persamaan berikut: komedi = tragedi + waktu.

Lengkebong adalah kisah tragis, karena ia sebenarnya mewakili sebagian diri kita yang banyak tak kita akui. Kita, dalam sepenggal perjalanan hidup, setidaknya pernah menjadi pemalas dan banyak akal untuk menipu nasib. Dengan begitu, barangkali kita bisa memodifikasi sedikit rumus Woody Allen tadi: komedi = tragedi + jarak. Sebab dengan menatap Lengkebong dari jauh, kita sebenarnya memberi tapal batas jarak antara diri kita yang tak ingin kita akui (pemalas dan tukang tipu), dan mengalamatkan identitas yang tak ingin kita akui ke sosok Lengkebong. Hanya dengan begitu, ironi menjadi lucu. (Barangkali karena itu pula, kita lebih gampang menilai tragedi orang lain sebagai komedi, dan komedi yang menimpa kita sebagai tragedi.)

Baca Juga  Martabak Mini Buatan Nadya Laris Pasaran

Menonton Lengkebong menunjukkan kalau kita sebenarnya lagi mempraktikkan salah satu unsur penting demotivasi, yakni nyali untuk menertawakan diri sendiri. Di Perancis, kita kenal demotivator bernama Michael Gérard Joseph Colucci, atau terkenal dengan panggilan Coluche. Ia terkenal karena menjadikan ayam jago yang merupakan simbol nasional Prancis sebagai bahan ketawaan (ayam jago menjadi simbol kegagahan dan keberanian Prancis di era Revolusi Prancis dan Perang Dunia I). “Tahukah Anda mengapa orang Prancis memilih ayam jago sebagai simbol nasionalnya? C’est parce que c’est le seul qui arrive à chanter les pieds dans la merde! Karena ayam jago adalah satu-satunya unggas yang mampu bernyanyi saat kakinya terbenam di tahi!”

Coluche memang terkenal suka bergarah. Ia menertawakan identitas dirinya sebagai anggota bangsa Prancis, bangsa yang suka omong besar soal hal-hal hebat dan gagah berani, tapi banyak masalah besar dalam negaranya yang tak terselesaikan. Coluche menarik perhatian Romo Setyo Wibowo, guru besar filsafat Driyakarya. Menurut Romo Setyo (dalam kata pengantarnya untuk buku Syarif Maulana berjudul Demotivasi: Panduan Menghadapi Hidup dengan Biasa-Biasa Saja), tingkat menertawakan diri bangsa Indonesia masih rendah karena: “Pertama, kita tidak boleh menertawakan agama … Kedua, tidak boleh menertawakan etnis atau suku lain. Ketiga, simbol nasional seperti Garuda tidak boleh dihina. Kita boleh menertawakan diri, meski harus ekstra hati-hati.”

Saya akhirnya melihat serial komedi Lengkebong sebagai ajakan bersama untuk menertawai diri sendiri. Lengkebong hanyalah metafora bagi sisi lain dari diri kita yang sulit kita terima.

SEMANGAT DEMOTIVASIONAL

Lengkebong tak terima dihujat-hujat oleh istrinya yang bawel karena insecure dengan tetangga. Ia dianggap tidak becus sebagai kepala keluarga. Darah kelaki-lakiannya berdesir. Merasa tidak berguna di rumah. Ia lantas menggulung karpet, lalu keluar dari rumah papan yang keropos itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Meski awalnya cuma berniat rebahan di totaboyan, tak dinyana, Lengkebong justru ditawari kerja oleh Om Egi. Dengan peci, baju batik, dan bokser yang dilapisi sarung, Lengkebong pamit pada istri dan anaknya mencari nafkah. Perpisahan itu agak dramatis, tapi sang istri bersikap tabah melepas suami.

Baca Juga  Tekuni Pembuatan Huruf Timbul Akrilik, Iwan Raup Omset Jutaan Perbulan

Film pun memasuki babak kedua, hambatan berlapis-lapis menjegal tokoh utama yang mencari seperiuk nasi untuk tutup saji mereka yang kosong. Lengkebong bukan hanya pingsan dan dimarahi bosnya karena terlalu manja, ia pun harus berhadapan dengan begal di tengah hutan. Awalnya hanya ingin mengepulkan dapur, Lengkebong dan Om Egi malah berakhir di ujung golok dua orang begal.

Lalu saya bertanya dengan suatu semangat demotivasional yang kuat, “pantaskah gengsi membeli kursi baru ditukar dengan berita kematian di koran minggu pagi?” Barangkali argumentasi Lengkebong di awal film sudah benar: “… heh, mau up normal, new normal, sampai abnormal, manusia akan tetap hidup!” Apa artinya meningkatkan taraf normal kehidupan bila nyawa akan jadi lebih murah pada akhirnya. Di titik ini, terdapat kritik materialisme yang tersirat. Lengkebong memang benar dengan semangat demotivasionalnya: lebih baik hidup bahagia daripada mengadu urat leher dengan mata parang.

Pada akhirnya Lengkebong merupakan bagian dari denyut nadi kebudayaan lokal yang nyaris digilas zaman. Ia cermin di mana kita bisa menertawakan diri sendiri dan dunia yang kian terbius politik serta materialisme yang membikin hidup tidak asyik lagi. “Manusia akan tetap hidup!” kata Lengkebong. Dan harapan saya, Lengkebong akan tetap hidup. Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman-teman di belakang upaya mengekalkan Lengkebong lewat mata kamera itu. Terima kasih karena telah berkarya, dan membantu saya dan banyak orang untuk masih bisa tertawa renyah di tengah ketidakmenentuan pagebluk ini. Ikan hiu makan tomat, I love so much. Ditunggu episode-episode selanjutnya, ya!

Tags: 2020braga indie projectlebfkebongtondok project
selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri selamat hari natal cherish harriette anggota dpd ri
ADVERTISEMENT
Rensa

Rensa

Next Post
Dinas PUPR Lakukan Perbaikan Jalan Desa Kopandakan I

Dinas PUPR Lakukan Perbaikan Jalan Desa Kopandakan I

  • 33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    33 Pejabat Sulut yang Job Fit Hanya 22 Ikut Asesmen di BKN, Berikut Daftarnya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Ada Penyimpangan Dana BOS, Para Guru Laporkan Kepala SMA Negeri 2 Kotamobagu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang Kasus Hibah GMIM Berakhir, Ini Putusan Lengkap untuk Lima Terdakwa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • YSK Lantik Pejabat Fungsional, Ingatkan ASN Bekerja Nyata dan Tidak Perlu Manuver

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Gembira Bagi ASN Sulut, Gubernur Tegaskan Tak Ada Pemotongan Gaji dan Tunjangan di 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Logo Utama
Logo Dewan Pers
Dewan Pers
No: 1014/DP-Verifikasi/K/V/2022 Verified
Logo AMSI
Anggota AMSI
No Result
View All Result
  • Harga Emas Hari Ininew
  • Live StreamingTV
  • Klasemen Sepak Bolanew
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Visi dan Misi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • RSS KRONIKTOTABUAN
  • Karir
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Survei Pembaca

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

No Result
View All Result
  • Berita Nasional
  • Berita Daerah
    • Berita Sulawesi Utara
      • Berita Bolmong
      • Berita Bolmut
      • Berita Boltim
      • Berita Bolsel
      • Berita Kotamobagu
    • Berita Musi Banyuasin
  • Berita Ekonomi
  • Berita Politik
  • Berita Hukum
  • Berita Olahraga
  • Berita Hiburan
    • Artis
    • Film
  • Advertorial

© 2025 PT. Media Moroton Morigon

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In