Manguni
salah satu adegan dalam serial lengkebong
Kroniktotabuan.com

Oleh : Tyo Mokoagow

Pegiat Literasi di Komunitas Literasik Kotamobagu dan Rumah Baca

Mata kamera berwarna mendung itu bergerak lambat. Ia menangkap cahaya luar yang menyusup di antara renggang dinding papan yang keropos. Di sana kita lihat nyiru tergantung entah kapan terakhir dipakai, tudung saji yang mungkin tak berisi, serta ceret air dengan tutup sewarna kuning telur. Di luar terdengar ciap-ciap anak ayam mencari ibunya. Sementara, pemilik dapur dengan jilbab hitam sibuk mencari letak suaminya. “Apakah kamu melihat Lengkebong?” Tanya sosok itu tepat ke arah penonton. Dalam adegan ini, saya langsung ingat Dora the Explorer. Meski Dora jelas-jelas tidak berkumis.

Episode ketiga Lengkebong dibuka dengan tempo cepat. Mata kamera tidak stabil menebalkan ketegangan. Tidak ada basa-basi, mereka langsung menembak jantung keresahan yang hendak dsampaikan—tentu saja tanpa melupakan humor lokal yang kental. Kita lalu dipaparkan dengan pertengkaran khas suami istri kelas menengah ke bawah, yakni kemiskinan nasib. Namun Lengkebong tetaplah Lengkebong. Ia seorang pemalas dan banyak akal dari jantung cerita rakyat Bolaang Mongondow.

Lengkebong adalah salah satu tokoh sastra lisan yang sudah tidak banyak diwartakan lagi. Dahulu kultur tutur masih sangat kental di Bolaang Mongondow. Orang tua biasanya duduk di depan kerumunan lalu menceritakan petatah petitih yang dibungkus dalam kisah jenaka sehingga menarik perhatian. Salah satu yang santer berjudul O’uman in Lengkebong (Cerita Tentang Lengkebong). Berkisar tentang anak pemalas dan gemar bertipu daya. Tiap kali disuruh bapaknya kerja, Lengkebong selalu punya seribu satu alasan untuk menolak: sakit kepala, kesemutan, dan macam-macam lagi. Karena bingung anaknya selalu kena sakit bertepatan dengan diajak kerja, bapaknya lantas membawa Lengkebong ke dukun. Di sana, Lengkebong justru dipukuli si dukun karena ketahuan berbohong.

Kisah tersebut terekam sebagai salah satu folklore (cerita rakyat) yang masih bisa diselamatkan zaman. Karena biasanya berbentuk tutur, maka banyak kisah rakyat yang tak terdokumentasikan. Lengkebong adalah pengecualian. Barangkali karena ceritanya bisa sangat relevan bahkan untuk setiap zaman dan ruang.

Baca Juga :  Meiddy Makalalag Nahkodai PDIP Kotamobagu

Perangai yang kurang lebih persis, bisa kita dapati di Jawa Barat dalam sosok Kabayan. Lengkebong dan Kabayan tak jauh berbeda. Mereka suka melempar atau mempraktikkan lelucon-lelucon absurd tapi terkesan cerdik. Pernah Kabayan diajak oleh mertuanya untuk memetik kacang koro di kebun. Di tengah proses pemetikan, Kabayan sekejap lenyap tanpa aba-aba. Mertuanya berseloroh, “dasar menantu malas!” Barangkali pikir mertuanya, Kabayan sudah pulang atau mencari tempat strategis untuk tidur. Demikianlah karung kacang koro dipagul mertuanya sampai ke rumah. Mertuanya memang tak salah kalau Kabayan mencari tempat strategis untuk tidur, ternyata di dalam karung tersebut ia mendapati Kabayan lagi tertidur pulas. Mertuanya kesal dan marah-marah karena merasa dikerjai oleh Kabayan si pemalas itu.

Setiap budaya besar punya humor lokal. Humor adalah cara kita menertawakan nasib yang kerap kali bak tragedi. Perbedaan antara komedi dan tragedi memang bisa tipis dan tajam, yang dibatasi oleh garis waktu—dalam film besutan Woody Allen, Crime & Misdeamanor, ia dirumuskan dalam persamaan berikut: komedi = tragedi + waktu.

Lengkebong adalah kisah tragis, karena ia sebenarnya mewakili sebagian diri kita yang banyak tak kita akui. Kita, dalam sepenggal perjalanan hidup, setidaknya pernah menjadi pemalas dan banyak akal untuk menipu nasib. Dengan begitu, barangkali kita bisa memodifikasi sedikit rumus Woody Allen tadi: komedi = tragedi + jarak. Sebab dengan menatap Lengkebong dari jauh, kita sebenarnya memberi tapal batas jarak antara diri kita yang tak ingin kita akui (pemalas dan tukang tipu), dan mengalamatkan identitas yang tak ingin kita akui ke sosok Lengkebong. Hanya dengan begitu, ironi menjadi lucu. (Barangkali karena itu pula, kita lebih gampang menilai tragedi orang lain sebagai komedi, dan komedi yang menimpa kita sebagai tragedi.)

Baca Juga :  Menikmati Nikmatnya Kopi Rinjing Moyag Di Pondok Kopi 43

Menonton Lengkebong menunjukkan kalau kita sebenarnya lagi mempraktikkan salah satu unsur penting demotivasi, yakni nyali untuk menertawakan diri sendiri. Di Perancis, kita kenal demotivator bernama Michael Gérard Joseph Colucci, atau terkenal dengan panggilan Coluche. Ia terkenal karena menjadikan ayam jago yang merupakan simbol nasional Prancis sebagai bahan ketawaan (ayam jago menjadi simbol kegagahan dan keberanian Prancis di era Revolusi Prancis dan Perang Dunia I). “Tahukah Anda mengapa orang Prancis memilih ayam jago sebagai simbol nasionalnya? C’est parce que c’est le seul qui arrive à chanter les pieds dans la merde! Karena ayam jago adalah satu-satunya unggas yang mampu bernyanyi saat kakinya terbenam di tahi!”

Coluche memang terkenal suka bergarah. Ia menertawakan identitas dirinya sebagai anggota bangsa Prancis, bangsa yang suka omong besar soal hal-hal hebat dan gagah berani, tapi banyak masalah besar dalam negaranya yang tak terselesaikan. Coluche menarik perhatian Romo Setyo Wibowo, guru besar filsafat Driyakarya. Menurut Romo Setyo (dalam kata pengantarnya untuk buku Syarif Maulana berjudul Demotivasi: Panduan Menghadapi Hidup dengan Biasa-Biasa Saja), tingkat menertawakan diri bangsa Indonesia masih rendah karena: “Pertama, kita tidak boleh menertawakan agama … Kedua, tidak boleh menertawakan etnis atau suku lain. Ketiga, simbol nasional seperti Garuda tidak boleh dihina. Kita boleh menertawakan diri, meski harus ekstra hati-hati.”

Saya akhirnya melihat serial komedi Lengkebong sebagai ajakan bersama untuk menertawai diri sendiri. Lengkebong hanyalah metafora bagi sisi lain dari diri kita yang sulit kita terima.

SEMANGAT DEMOTIVASIONAL

Lengkebong tak terima dihujat-hujat oleh istrinya yang bawel karena insecure dengan tetangga. Ia dianggap tidak becus sebagai kepala keluarga. Darah kelaki-lakiannya berdesir. Merasa tidak berguna di rumah. Ia lantas menggulung karpet, lalu keluar dari rumah papan yang keropos itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Meski awalnya cuma berniat rebahan di totaboyan, tak dinyana, Lengkebong justru ditawari kerja oleh Om Egi. Dengan peci, baju batik, dan bokser yang dilapisi sarung, Lengkebong pamit pada istri dan anaknya mencari nafkah. Perpisahan itu agak dramatis, tapi sang istri bersikap tabah melepas suami.

Baca Juga :  Tiga Komisi DPRD Kotamobagu Turun Lapangan Usai Bahas LPJ 2019

Film pun memasuki babak kedua, hambatan berlapis-lapis menjegal tokoh utama yang mencari seperiuk nasi untuk tutup saji mereka yang kosong. Lengkebong bukan hanya pingsan dan dimarahi bosnya karena terlalu manja, ia pun harus berhadapan dengan begal di tengah hutan. Awalnya hanya ingin mengepulkan dapur, Lengkebong dan Om Egi malah berakhir di ujung golok dua orang begal.

Lalu saya bertanya dengan suatu semangat demotivasional yang kuat, “pantaskah gengsi membeli kursi baru ditukar dengan berita kematian di koran minggu pagi?” Barangkali argumentasi Lengkebong di awal film sudah benar: “… heh, mau up normal, new normal, sampai abnormal, manusia akan tetap hidup!” Apa artinya meningkatkan taraf normal kehidupan bila nyawa akan jadi lebih murah pada akhirnya. Di titik ini, terdapat kritik materialisme yang tersirat. Lengkebong memang benar dengan semangat demotivasionalnya: lebih baik hidup bahagia daripada mengadu urat leher dengan mata parang.

Pada akhirnya Lengkebong merupakan bagian dari denyut nadi kebudayaan lokal yang nyaris digilas zaman. Ia cermin di mana kita bisa menertawakan diri sendiri dan dunia yang kian terbius politik serta materialisme yang membikin hidup tidak asyik lagi. “Manusia akan tetap hidup!” kata Lengkebong. Dan harapan saya, Lengkebong akan tetap hidup. Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman-teman di belakang upaya mengekalkan Lengkebong lewat mata kamera itu. Terima kasih karena telah berkarya, dan membantu saya dan banyak orang untuk masih bisa tertawa renyah di tengah ketidakmenentuan pagebluk ini. Ikan hiu makan tomat, I love so much. Ditunggu episode-episode selanjutnya, ya!

To Top