Berita Bolmong

Tim Disdik Lalui Medan Extrem Kunjungi Sekolah di Pelosok Bolmong

Kroniktotabuan.com

BOLMONG– Belum lama ini Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Yasti Soepredjo Mokoagow mengagendakan dirinya akan berkunjung dan berkntor di seluruh desa.

Hal itu bertujuan guna mengetahui kinerja pemerintah desa, memantau proses jalannya infrastruktur yang bersumber dari Dana Desa (Dandes), serta menemui masyarakatnya untuk mendengarkan masukan dan kritikan selama kepemimpinannya.

Dari setiap kunjungannya ke desa, bupati mendapatkan banyak hal dan pelajaran dari masyarakat.

Salah satunya bagaimana merealisasikan satu visi misi untuk peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Itu berarti sektor pendidikan harus menjadi prioritas utama dan merata di seluruh wilayah di Bolmong.

Menafsirkan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Renti Mokoginta beserta jajarannya pun mengagendakan terobosan baru dengan melakukan kunjungan ke beberapa sekolah yang berada di pelosok.

Sebelumnya Renti beserta tim dari Disdik Bolmong pekan lalu sudah start di beberapa sekolah di desa terpencil.

Adapun sekolah yang didatangi yakni SD Pomoman, Desa Pomoman, Kecamatan Poigar, SDN Kolingangaan yang berada di Kecamatan Bilalang. Terbaru, Kamis (2/7/2020) SD Gunung Sari, Desa Kanaan, serta SDN Ikarad dan SMP Negeri 8 yang berada di Desa Serasi, didatangi.

Amatan wartawan media ini yang mengikuti rombongan Disdik, pertama didatangi hari ini Desa Kanaan. Di situ terdapat sebuah sekolah satu atap untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Molingongot. Sekolah tersebut masih cukup baik dari segi infrastruktur maupun jumlah guru.

Di dusun setelahnya, yakni Dusun Gunung Sari, terdapat satu SD yang hanya memiliki 3 kelas tanpa ruang guru dan hanya memiliki 13 murid.  Sekolah tersebut merupakan sekolah persiapan setelah gedung sebelumnya rusak akibat longsor.

“Ini hibah dari warga, kemudian Pemda Bolmong bangun kembali di lahan baru ini untuk sementara,” ujar Kepala Sekolah (Kepsek) SD Gunung Sari, Lusje Nontje Sondakh.

Lusje mengatakan, rata-rata murid di SD tersebut setelah lulus tindak melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya.

“Mereka setelah lulus SD, tidak lanjut sekolah lagi. Langsung bertani membantu orang tua,” kata dia.

Dia mengaku telah menghimbau agar orang tua murid agar bisa melanjutkan jenjang pendidikan anak mereka.

“Di sini jenjang pendidikan mereka hanya sampai SD, yang berlanjut sampai sarjana hanya satu orang,” tutur Lusje.

Tim Disdik Bolmong berlanjut ke SDN Satu Ikarad. Di sekolah yang memiliki 15 siswa itu memiliki sejumlah kekurangan, yakni plafon atap yang mulai rusak, serta toilet yang tidak bisa digunakan.

Kepsek SDN 1 Ikarad , Marni Longdong mengatakan, biaya bantuan operasional sekolah (BOS) yang diterima tidak mencukupi untuk perbaikan sekolah.

“Tahun ini dana BOS kita hanya Rp12 juta, sementara yang akan kita bangun lebih dari itu,” ujar dia.

Dia mengaku, besaran dana BOS yang diterima sekolah hanya mampu menutupi belanja buku murid, serta pengadaan peralatan sekolah lain.

Selain itu kata dia, Renti Mokoginta merupakan Kadis Pendidikan pertama yang melakukan kunjungan di sekolahnya.

Tak jauh dari sekolah tersebut, terdapat juga SDN 2 Ikarad. Jumlah muridnya lumayan banyak, namun keluhan guru-guru soal medan jalan yang mereka tempuh untuk menuju sekolah.

Sebagian besar guru-guru di sekolah tersebut berasal dari Desa Kanaan, yang jarak tempuh ke Desa Ikarad mencapai 3 kilometer.

“Tidak jauh kalau jalan bagus, tapi kalau hujan kita was-was karena jalan berlumpur,” ucap salah satu guru di sekolah tersebut.

Perjalanan pun berlanjut ke SMP Negeri 8 Dumoga, Desa Serasi. Berada jauh di pedalaman hutan sekitar 8 kilometer dari kawasan pedesaan, Tim Disdik harus melalui medan yang cukup extrem, mulai dari jalanan rusak licin dan  berbatu, turunan curam hingga jembatan yang tak layak dilewati mobil.

“Kunjungan ini bertujuan untuk kembali membangkitkan semangat tenaga pendidik (Guru), mengevaluasi kinerja guru, serta mengembalikan lagi gairah dan semangat anak untuk bersekolah. Ini juga dilakukan guna pemerataan pendidikan, jadi tak hanya sekolah yang bagus dan layak yang harus kita sambangi, namun sekolah yang berada di pelosok pun tetap akan dikunjungi,” kata Renti.

Renti mengaku, sejauh ini ada beberapa yang perlu menjadi  catatan penting yang harus diselesaikan usai melakukan peninjauan sekolah pelosok.

“Yang pertama itu pemenuhan fasilitas sekolah, kemudian tunjangan guru pelosok juga menjadi catatan kami,” ujarnya.

Renti mengaku, sejumlah guru di pelosok sudah tidak lagi menerima tunjangan, padahal itu perlu untuk peningkatan semangat kerja tenaga pendidik.

“Seperti di Desa Serasi ini, sebagian sekolah sudah tidak lagi menerima tunjangan. Namun setelah dicek ternyata tunjangan tersebut berdasarkan data pemberian pemberdayaan desa, padahal tahun 2019 kemarin ada,” tukasnya. (len)

To Top