Berita Kotamobagu

Juri Dinilai Tak Paham Akar Sejarah, Sangadi Tabang: Penilaian Lomba Monuntul Menjijikan!

Juri Dinilai Tak Paham Akar Sejarah, Sangadi Tabang: Penilaian Lomba Monuntul Menjijikan! Berita Kotamobagu
Kreasi lampu botol dan listrik yang ditampilkan Desa Tabang pada festival Monuntul 2019. (istimewa)
Kroniktotabuan.com

KOTAMOBAGU– Pemenang festival lomba Monuntul yang digelar Pemkot Kotamobagu pada Ramadan ke 27- 29, telah diumumkan, Selasa (11/6/2019).

Pemenang pertama adalah Kelurahan Motoboi Kecil, kedua  Desa Poyowa Besar I, dan ketiga Kelurahan Matali. Kemudian harapan I ada Desa Tabang, harapan II Kelurahan Mongkonai Barat.

Namun nada kekecewaan muncul atas hasil penilaian tersebut.

Kepala Desa (Sangadi) Tabang, Junius Dilapanga, mengungkapkannya kepada wartawan usai desanya hanya ditetapkan sebagai juara harapan I.

Junius menganggap hasil penilaian pesona lomba Monuntul tahun ini menjijikan. Menurut dia, juri yang ditunjuk oleh Pemkot Kotamobagu tidak kompeten, tidak mengetahui akar sejarah Monuntul.

“Ke depan saya usul ke Pemkot, juri adalah unsur budayawan, wartawan senior, tokoh adat dan tokoh agama. Budayawan  seperti Reiner Emyot Oentoe, wartawan senior Hairil Paputungan dan Dino Gobel. Karena akar sejarah lahirnya festival Monuntul di Kotamobagu dari duo dedengkot ini,”

“Kemudian tokoh adat yg kompeten dan menguasai kebiasaan-kebiasaan di tanah leluhur, tokoh agama yang menguasai dalil-dalil dan sejarah lahirnya tuntul dalam peradaban Islam Mongondow. Juri bukan diambil dari Baznas,karena Baznas itu mengurusi zakat,” ungkapnya melalui roup messenger Facebook.

Tahun depan, kata Junius, desanya akan pikir-pikir lagi untuk ikut festival Monuntul.

Lantarannya, lanjut mantan wartawan senior ini, masyarakat sudah tahu bahwa poin tertinggi yang dinilai adalah tingkat partisipasi masyarakat dan keserasian lampu (toga’) tuntul (dimensi tradisionalnya) sehingga  mereka berpartisipasi luar biasa hingga di lorong-lorong.

“Kenyataannya, tuntul biar cuma taruh sembarang di leput, maso 3 besar (lampu hanya diletakan sembarang di atas pagar rumah, masuk tiga besar). Jadi karena ujung perhelatan ini harusnya memompa semangat warga untuk mempertahankan partisipasinya, namun yang terjadi terbalik, tidak mendidik lagi, torang masih pikir-pklir tahun depan (kami masih pikir-pikir tahun depan),” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Jainudin selaku Ketua Juri festival Lomba Monuntul Jainuddin masih coba dimintai tanggapannya. Demikian juga dengan Kepala Bagian Kesra Setda Kotamobagu Adin mantali sebagai penanggung jawab kegiatan ini. (zha)

Berkomentar menggunakan Akun Facebook

loading...
To Top