
Tragedi Drag Race Upai: Jalan A.P Mokoginta Aspal Baru, Luka Baru
KOTAMOBAGU, Kroniktotabuan.com – Dulu, lubang-lubang menganga menjadi pemandangan sehari-hari di Jalan A.P. Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara.
Belasan tahun lamanya jalan sepanjang lebih kurang 1,2 kilometer itu berada dalam kondisi rusak parah. Aspal yang terkelupas, badan jalan berlubang dan permukaan yang tak lagi nyaman dilalui membuat kendaraan, terutama bentor, enggan melintas.
Bagi warga Upai, Pontodon hingga Bilalang, jalan itu bukan sekadar jalur penghubung. Ia menjadi bagian dari keseharian yang selama bertahun-tahun harus mereka lalui dalam kondisi serba sulit.
Bahkan, persoalan status aset sempat membuat perbaikan jalan ini seperti berjalan di tempat. Bertahun-tahun muncul pertanyaan, apakah Jalan A.P. Mokoginta merupakan aset Pemerintah Kotamobagu atau Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Baru pada 2024 status jalan tersebut mendapat kejelasan sebagai aset Pemprov Sulut. Akhir 2025, jalan itu akhirnya diaspal meski belum seluruh ruas diperbaiki. Baru sekitar satu kilometer. Tetapi perubahan itu cukup terasa. Jalan yang sebelumnya penuh lubang berubah menjadi mulus dan lebar. Aktivitas warga pun menjadi lebih mudah.
Namun, tak ada yang menyangka, kurang dari setahun setelah diperbaiki, jalan yang dahulu menjadi simbol panjangnya penantian warga itu justru menjadi lokasi sebuah tragedi.
Ketika Jalan Mulus Menjadi Pusat Keramaian
Pada 6 hingga 9 Agustus 2026, Jalan A.P. Mokoginta berubah wajah.
Bukan lagi kendaraan warga yang menjadi pemandangan utama. Deru mesin, suara knalpot dan sorak penonton memenuhi ruas jalan yang baru saja menikmati wajah barunya.
Jalan tersebut dijadikan arena Drag Race dan Drag Bike yang digelar TIDAR dan Muda Charaka.
Bagi masyarakat Kotamobagu Utara, event tersebut bukan sekadar perlombaan. Kehadiran ajang yang selama ini jarang mereka nikmati di wilayah itu seolah menjadi hiburan besar yang sudah lama dinantikan.
Antusiasme warga pun luar biasa. Penonton datang dari berbagai kalangan. Anak muda berdiri berdampingan dengan orang tua. Sepanjang area perlombaan dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung aksi para pembalap dari berbagai daerah. Kerumunan bahkan terlihat di hampir sepanjang arena.
Situasi itu disebut berbeda dibandingkan sejumlah event serupa yang pernah digelar di titik lain di Kotamobagu.
“Di Kotamobagu Utara ini sepakbola antar-RT saja penontonnya membludak. Apalagi event besar yang belum pernah digelar di sini seperti Drag Race ini,” ungkap Abo’, salah satu warga Upai, Selasa (11/8/2026).
Antusiasme itulah yang kemudian membuat jalan tersebut tak lagi sekadar menjadi jalan tetapi berubah menjadi pusat keramaian.
Namun, di tengah membeludaknya penonton, persoalan keselamatan menjadi catatan yang tak bisa diabaikan.
Di sebuah area perlombaan, ada bagian yang seharusnya menjadi ruang penting bagi keselamatan: sekitar 100 meter area pengereman.
Namun, di lokasi tersebut justru masih terlihat banyak penonton. Pagar atau barikade pengaman yang memadai juga disebut belum tersedia untuk benar-benar memisahkan penonton dengan lintasan. Kerumunan semakin padat ketika perlombaan berlangsung.
Deru kendaraan yang melaju kencang berpadu dengan sorak penonton. Jarak antara lintasan dan kerumunan menjadi persoalan yang kemudian terlihat begitu nyata.
Sebuah event yang sejak awal mendatangkan ribuan pasang mata akhirnya menyisakan persoalan besar tentang bagaimana keselamatan penonton seharusnya ditempatkan.
Dan kemudian, tragedi itu terjadi. Insiden di arena Drag Race tersebut merenggut 8 nyawa dan menyebabkan 8 orang lainnya mengalami luka berat.
Seketika, Jalan A.P. Mokoginta kembali berubah wajah. Sorak-sorai penonton berganti kepanikan. Suara mesin balap yang sebelumnya menjadi hiburan berubah menjadi ingatan yang menyakitkan bagi keluarga korban.
Jalan yang Tak Lagi Sama
Bagi warga, Jalan A.P. Mokoginta memiliki cerita panjang.
Dulu, mereka mengingatnya sebagai jalan rusak yang membuat perjalanan terasa berat. Mereka menunggu bertahun-tahun hingga status asetnya jelas, kemudian menunggu lagi hingga perbaikan akhirnya dilakukan.
Ketika jalan itu akhirnya mulus, warga menikmati kemudahan yang selama ini mereka harapkan.
Tetapi, kurang dari setahun kemudian, jalan yang sama menjadi saksi sebuah peristiwa yang meninggalkan duka mendalam.
Kini, Jalan A.P. Mokoginta bukan lagi sekadar ruas jalan sepanjang sekitar satu kilometer yang menghubungkan permukiman warga. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Kotamobagu Utara.
Di tempat itu, pernah ada sorak-sorai. Pernah ada deru mesin. Pernah ada kerumunan yang datang untuk mencari hiburan.
Namun, di tempat yang sama pula, delapan orang kehilangan nyawa dan delapan lainnya harus berjuang dengan luka berat.
Jalan yang selama belasan tahun dinanti warga untuk menjadi mulus itu akhirnya meninggalkan sebuah catatan yang jauh lebih pahit.
Sebuah cerita yang akan terus diingat. Bukan karena aspal barunya, bukan pula karena balapan yang pernah digelar di atasnya, tetapi karena ada 8 nyawa yang hilang di sana.***