Pojok Penulis

Natal dan Tasyabuh

Natal dan Tasyabuh
Keterangan gambar: God Measuring World With Compass ~ Anonymous
Kroniktotabuan.com
65 / 100

Oleh : Tyo Mokoagow

Saya terpingkal membaca status seorang kawan Facebook (FB): “cara memberi selamat Natal tanpa dikofar-kafirkan: baraqallahu fii umriq Yesus Kristus.” Teman FB lain men-screenshot terjemahan google dari Merry Christmas menjadi “eid milad saehid”. Setengah bercanda, saya kira inilah cara paling “Islami” mengucapkan selamat natal tanpa cemas dikofar-kafirkan umat Islam wkwk.

Dan sebagaimana ritus tahunan di negara bermayoritas Islam ini, wacana haram-halal ucapan selamat natal kembali bergema di ruang publik digital kita. Tapi menurut saya, katakanlah kita tidak secara intensionalitas mengucap selamat natal lewat tutur, toh emosi euforia dan alam bawah sadar tidak dapat menyangkal: diam-diam ada kata “Alhamdulillah” berkelabat cepat dalam benak kita.

Kita boleh saja tidak mengucapkan selamat natal lewat tutur, tetapi tindakan kita dapat saja dinilai mengikutsertakan diri dalam euforia natal. Bisa saja kita menolak natal tapi bersukur Alhamdulillah karena saudara tak seiman kita menyumbangkan tanggal merah di kalender. Kita mungkin akan liburan ke tempat-tempat wisata yang sulit dilakukan di hari kerja biasa. Kita mungkin akan berburu barang belanjaan di hari natal dan tahun baru yang lagi cuci gudang. Kita barangkali tanpa sadar menikmati keguyuban akrab mengelumuni kita di hadapan keriut pohon cemara yang dihiasi di ruang publik, derai-derai tawa Tuan Santa yang bermain dengan anak-anak, atau menonton “Home Alone” di rumah dengan kudapan seadanya seraya mengenang masa kanak yang jauh dan lugu itu.

Nah, setelah saya telusuri, saya temukan dalil yang sering dipakai orang yang mengharamkan selamat natal: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum itu” (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Ini disebut juga “tasyabuh” atau mengikuti orang kafir. Karena natal adalah budaya orang kafir, maka kita dilarang untuk mengucapkan selamat untuk mereka yang merayakannya.

Ini mengusik saya. Kalau begitu, adakah tradisi yang benar-benar Islam? Bukankah pakaian koko yang sering kita pakai ke masjid berasal dari Cina yang dilabeli komunis bin kafir bin anti-Pancasialis? Bukankah bersedekap ketika salat berasal dari ritual para penyembah api? Bukankah metode penemuan hukum Islam bernama qiyas berasal dari logika silogisme Aristotelian sepuluh abad sebelum Muhammad lahir? Bukankah tradisi berjilbab, menurut Murtadha Mutthahhari, pertama kali muncul di India kemudian Persia sebelum menjadi syariat Islam?

Saya pengin bilang sesungguhnya, bahwa aspek-aspek yang kita kira prinsipil dalam agama pun tetap saja adalah hasil akulturasi dari sistem keyakinan lain di luar Islam. Apakah bila kita tetap menjalankan warisan tradisi lain itu kita akan dibangkitkan di pengadilan terakhir bersama orang-orang cipit, orang Yunani abad ke-7 SM, para majusi, dan perempuan-perempuan India-Persia pra-Islam? Saya tidak tahu. Tapi untuk mengetahui lebih mendalam soal hadith itu, tidak ada cara lebih baik selain mencari tahu raison d’etre/asbab al nuzul lahirnya hadith tersebut.

Hadith tersebut pada mulanya lahir sebagai bentuk politik identitas umat Islam zaman Madinah untuk menjaga disintegrasi umat. Karena dahulu sifat pembeda (differentia) antara Yahudi, Nasrani, dan Islam susah dipastikan karena berakar dari suku, bahasa, dan akar budaya yang sama, maka seringkali umat non-Islam pada pagi hari bersyahadat lantas mengikuti diskusi soal strategi dakwah kemudian sorenya mereka kembali murtad. Orang-orang itu dalam Quran disebut sebagai kaum munafiqun. Untuk memperjelas garis demarkasi identitas, maka Muhammad saw pun mengeluarkan kata-kata tersebut.

Hadith ini pun tidak terlalu kuat dijadikan pegangan, setidaknya menurut Prof Nadiersyah Hossen, ulama andalan saya. Olehnya, sanad hadith tersebut tidak kuat karena tidak diriwayatkan oleh dua kitab utama, yakni sahih Bukhari dan sahih Muslim. Banyak ulama berselisih paham soal hadith itu: ada yang sepakat, ada yang tidak, ada pula yang bilang dhaif (lemah kekuatan kebenarannya).

Dari Nadirsyah Hossen juga saya mengetahui bahwa dalam kaidah hukum Islam terdapat konsep al-‘adah muhakkammah. Bahwa tradisi yang tak bertentangan dengan pokok-pokok kaidah Islam (ushul) bisa diakui dan diakomodir dalam ekspresi keislaman kita. Islam sesungguhnya agama inklusif dan dinamis. Bahkan penyebaran Islam pertama di Indonesia tidak mungkin terwujud tanpa upaya kreatif dalam gerakan strategi kebudayaan Wali Songo. Gerakan Islam pertama di Nusantara memang adalah Islam konteks, “Islam Teks” atau skriptualis sendiri muncul tatkala Terusan Suez dibuka dan paham-paham syariat serta fiqh menggempur Nusantara sekitar abad ke-18 kalau saya tidak salah ingat.

Toh bila saya pakai baju koko, bukan berarti aqidah saya mengikuti komunisme; kalau saya pakai qiyas untuk menghukumi bayi tabung yang belum ada di zaman nabi bukan berarti saya beraqidah kepada Aristoteles yang berhaluan Paripatetik itu; kalau ibu saya berjilbab bukan berarti ibu saya beraqidah kepada dewa-dewi India serta tuhan apinya Persia pra-Islam; hanya karena saya bersedekap ketika salat bukan berarti saya lagi menyembah api atau dinding di depan saya; hanya karena saya mengucapkan “baraqallahu fii umriq” bukan berarti saya mengimani Yesus al-Masih sebagai Tuhan.(*)

Penulis adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung dan salah satu pengurus di organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow (KPMIBM) Cabang Bandung.

To Top