Headline News

Puisi, Barangkali Ibu Segala Rindu

BF17A744 9572 4A9A 8DBE 723ED106E321

OLEH: TYO MOKOAGOW

KRONIK TOTABUAN – Baudelaire merangkum segala filsafatnya dalam satu kata: perempuan. Kata itulah yang hendak diringkas dan diringkus Anil Ardhani dalam antologi puisinya. Perempuan adalah citra primordial tertua yang mendahului segala bentuk hegemoni patriarki. Sebelum rezim para dewa di balik bukit Olympus, penghambaan manusia pada citra Ilahi diarahkan pada sosok yang feminim. Dalam Tao of Islam Sachiko Murata, sifat yang melekat pada Tuhan pertama kali adalah pengasih dan penyayang (Rahman dan Rahim), bukan pengatur atau penghukum. Pada mulanya, sebelum jagat raya ini ada, Tuhan menampakkan dirinya sebagai feminim, bukannya maskulin.

Penampakkan Tuhan atau tajalli atau epifani adalah sesuatu yang tak asing dalam teosofi Ibn Arabi. Kata tajalli juga muncul satu kali dalam puisi Bumi Totabuan: “… rupanya manusia telah ditajalli Tuhan dalam dada ….” Gema Ibn Arabi lain terdapat dalam puisi Tuhan Hamba: “… Hamba: pasti ada yang terus tak bertuan dalam jiwa, ialah / kesendirian (yang mengajari cara mencintai paling hakiki) / Tuhan: tidak mengapa sebab akulah yang hakiki itu!”

Dalam Fushus al-Hikam, Arabi menemukan Tuhan dalam kesepian radikal yang bahkan tak mampu diejawantahkan kata-kata paling privat sekalipun. Kesunyian bahkan, adalah jarak paling dekat dengan urat nadi Tuhan. Barangkali, kesunyian yang kata Anil tak bertuan itu, adalah tempat paling terang di mana Tuhan bertajalli. Tapi, hanya dari kesunyian pula, penyair bisa mendengar lirih bisikan dari inti rahasia hati paling murni bersembunyi. Di sana, kita belajar mencintai yang—dalam puisi Anil—sama artinya dengan belajar memahami Tuhan.

Baca Juga: Otoritas

Cinta; Tuhan. Karena itulah mungkin, kata “cinta”, “kekasih”, dan “rindu” berseliweran di pelbagai puisi Anil—yang membuatnya selembut sajak-sajak Kahlil Gibran. Ketiga kata itu (“cinta”, “kekasih”, dan “rindu”) merupakan konsep yang tak cukup dipahami, tapi mesti dialami. Refleksi romantik personal sang penyair bisa kita lihat dengan jelas dalam antologi Perempuan-Perempuan Mongondow ini.

Memang pernah saya bayangkan, selain pada bumi, Tuhan pun bertajalli kepada perempuan. Karenanya kita mendengar istilah “surga di telapak kaki ibu” bukan di telapak kaki bapak. Perempuan yang dimaksud dalam buku ini, sudah barang tentu ditangkap dari lanskap Bolaang Mongondow. Semisal dalam Bumi Totabuan. Puisi itu berkisar tentang Inde Dowu dan perempuan-perempuan lokal dalam perang Pontodon yang kerap berada di pinggiran wacana sejarah (sejarah memang kerap dikuasai laki-laki dan penaka tak ada ruang bagi perempuan).

Ikhtiar menangkap citra Tuhan (Imago Dei) lewat sosok perempuan terekam baik dalam satu puisi yang bernama sama dengan judul buku Anil, Perempuan-Perempuan Mongondow. Penyair menangkap situasi konkret yang terjadi pasar, di sekolah, di rumah sakit, di biro jasa, dan di atas sajadah. Perjumpaan dengan perempuan-perempuan Bolmong di tempat itu membuat penyair ditagih mabuk rindu, jatuh hati, larut dalam peluk, bahkan sampai lupa diri. Pengalaman langsung dengan orang lain dirangkum pada akhir puisinya:

“… perempuan-perempuan Mongondow

sebegitu gigih dalam lirih

sedemikian perkasa dalam tabah

seumpama cahaya yang setia menemani mata.”

Perempuanlah madrasah pertama kita. Darinya kita belajar menggunakan fitur paling mendasar sebagai manusia: empati. Hanya mata yang terlatih oleh empati, yang bisa mencandra apa yang tersimpan di balik realitas keseharian. Dalam Durian, lembut mata sang penyair menembus lapis-lapis rantai produksi dari sebuah durian: “setiap durian yang kita makan / ada pengorbanan yang tak ingin terucapkan / oleh benih pada buahnya, buah pada durinya, duri / pada dagingnya, daging pada bijinya, biji pada / petaninya, dan petani ada anaknya.” Tampaknya dalam pengamatan sang penyair, relasi kita dengan durian juga mencangkup relasi kita dengan sang anak pemilik durian. Dengan pengamatan demikian, tidak ada yang tak terhubung dalam algoritma semesta ini.

Kepekaan sang penyair sebagai humanis juga bisa kita baca dari puisi Warung Kopi. Warkop yang dulu sejujur dan selugu mata gadis kecil, kini kena sihir yang disebut uang, yang oleh penyair dikatakan, “… seperti manusia pada uang kertas ‘yang memusnahkannya’.” Penyair pun bertanya: “‘benarkah di sini tak ada lagi kemanusiaan?” Hingga rasa hormat pada orang tua tak bisa diberi tanpa bayaran, hingga pemilik warkop menanti suaranya tergadai pada etalase demokrasi, hingga perjudian merampas percakapan dan dagelan di meja domino.

Kerinduan pada warkop yang tak selugu dulu, mencatat dirinya sendiri dalam puisi-puisi Anil. Kerinduan pada keakraban sosial sebelum teknologi menginvasi percakapan kita sehari-hari, juga menjelma sebagai salah satu sasaran kritik sang penyair. Puisi dijadikan saluran melampiaskan kerut-merut yang kecamuk dalam hati penyair. Simaklah puisi Androidmu ini:

sial!

android menculik obralan waktu

membakar buku-buku pelajaran sosial

membunuh tradisi cinta


dan begitu merayu

sial, sial, sial!

lebih sial lagi

kamu berbagi kasih dengan android

setiap hari kalian selalu bertemu dan bercinta,

di kepalaku pula

aku cemburu!

Kelihaian menangkap tajalli Tuhan dan ekspresi empati humanisme penyair, pun didukung dengan permainan bentuk yang menarik. Tengoklah puisi Perempuan Mongondow, di mana penyair merepetisi “perempuan itu”, “yang pernah saling tatap dan berbincang”, “dari … penghilang nyeri”, “dan … penenang hati”, “hingga”, sampai “menjadikan aku”. Dengan kerangka itu, penyair pun tinggal memasukkan unsur lokasi dan diksi menari-nari dengan bebas di atasnya.

Puisi sebagai permainan bentuk juga didapati dalam Pulang. Baris pertama diawali dengan “demi” dan baris kedua diawali dengan “aku”, setelahnya, sebaris puisi terjalin secara kreatif tanpa meninggalkan pertimbangan rima di belakangnya. Dalam Saudara Tak Sedarah, permainan bentuk dengan sentuhan gaya retoris dimulai dengan “kalian minta” lalu diikuti “aku pun”—yang dengan satu dan lain cara, membuat saya ingat puisi Gus Mus, Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat.

Permainan yang paling saya suka terdapat dalam Belajar Membaca, yang mengingatkan saya dengan keugaharian puisi Jokpin. Puisi tersebut mengandaikan bahasa Indonesia sebagai taman bermain, namun punya daya sentak yang kuat meski ditulis singkat.

R_I, ri

tambah N, rin

D_U, du

Ah … cukup sudah!

yang sering aku eja dalam doa, telah bahagia di pelaminannya

Penggunaan huruf italik untuk memungkas puisi Belajar Membaca di atas, kerap ditemukan dalam antologi puisi ini. Kita akan langsung menemukannya di puisi pertama (bagian paling memorable dari buku ini): “Perempuan, barangkali Ibu dari segala rindu.” Penyair memakai huruf miring sebagai strategi, agar pembaca lebih mudah menemukan inti jantung puisi. Di tempat lain, huruf miring dipakai untuk penekanan kata. Memberi italik pada kata tertentu memang memberi efek khusus, ketika kita membacanya kembali di dalam kepala.

Kalaupun ada sesuatu yang kurang tepat sasaran dalam buku bagus ini, mungkin adalah penggunaan titik koma (;) yang terkesan berlebihan dan kerap tergantikan fungsinya dengan titik dua (:). Kita mungkin tidak akan terlalu terganggu bila tidak terlalu patuh pada regulasi KBBI. Lagi pula, itu bukanlah masalah mengganggu. Pun, bukankah penyair—yang juga berprofesi sebagai guru sekolah—telah menghaturkan maaf dalam puisi berjudul Maaf Seorang Guru: “… maaf; aku pun sedang belajar / mendidik dan menghukum diriku.”

Bagaimanapun, Perempuan-Perempuan Mongondow menjelma oase, di tengah daerah kita yang riuh dan pekak oleh politik, urusan bertahan hidup, gengsi, dan kecamuk kemanusiaan lain yang menggempur kita dari segala arah. Manusia Mongondow perlu jeda, perlu meditasi. Kita mesti mengenal rahim dan tempat pulang paling asali: kata-kata. Lewat puisi, kata-kata tak lagi dilabeli harga, tak lagi dikontaminasi bau busuk tendensi politik, lewat puisi, kata-kata tak lagi seangkuh menara gading intelektual di megah universitas. Manusia Mongondow perlu pulang ke puisi, lalu bersahabat kembali dengan kesunyiannya sendiri yang paling purba. Dalam kesendirian yang tak bertuan itu, saya pun mendapati Tuhan bertajalli dalam antologi karya Anil Ardhani. Tak butuh waktu lama untuk menarik kesimpulan ini: Puisi, barangkali Ibu dari segala rindu.(*)

PENULIS ADALAH PEGIAT LITERASI DI KOMUNITAS LITERASIK DAN RUMAH BACA KOTAMOBAGU

To Top