
28 Tahun Menjajakan Kabar, Didin Bertahan di Tengah Senjakala Koran Cetak, Percaya Rezeki Tak Akan Tertukar
Setiap pagi, ketika sebagian orang membuka ponsel untuk membaca kabar terbaru, Syahrudin Paputungan justru memulai harinya dengan setumpuk koran di tangan.
Di usianya yang menginjak 48 tahun, pria yang akrab disapa Didin itu masih setia menyusuri jalan-jalan di Kota Kotamobagu, menawarkan lembar demi lembar surat kabar kepada pelanggan dan siapa saja yang masih merindukan sensasi membaca berita dari tinta di atas kertas.
Sudah 28 tahun pekerjaan itu ia jalani.
Di tengah derasnya arus media digital yang membuat koran cetak semakin ditinggalkan, Didin memilih bertahan. Bukan karena tak memiliki pilihan lain, melainkan karena ia percaya setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing.
“Cintai pekerjaan meski tak membuatmu kaya, tapi juga tak membuatmu miskin.”
Kalimat sederhana itu seolah menjadi prinsip hidup warga Kelurahan Motoboi Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, tersebut.
Dulu, profesi loper koran adalah pekerjaan yang menjanjikan.
Setiap hari Didin membawa 300 hingga 400 eksemplar berbagai surat kabar yang terbit di Sulawesi Utara dan Kotamobagu. Hampir seluruhnya habis terjual.
Keuntungan yang dibawanya pulang pun tak sedikit.
“Kalau dulu keuntungan setiap hari dari jual koran bisa Rp300 ribu,” kenangnya saat ditemui wartawan Kronik Totabuan di sekitar Jalan Paloko Kinalang, Jumat (26/6/2026).
Kini, keadaan telah berubah.
Sejak hampir satu dekade terakhir, media online berkembang begitu pesat. Informasi hadir dalam hitungan detik melalui layar telepon genggam. Koran cetak perlahan kehilangan pembaca.
Didin merasakan langsung perubahan zaman itu.
Setiap pagi ia kini hanya membawa 50 eksemplar Tribun Manado. Jumlah yang sangat jauh dibandingkan masa-masa ketika koran masih menjadi sumber utama informasi masyarakat.
Pendapatannya pun ikut menyusut.
“Sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah Alhamdulillah sekali. Tapi semua disyukuri. Yang penting masih ada koran yang terbit, berarti masih ada yang bisa saya jual,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.
Yang paling ia khawatirkan bukanlah omzet yang semakin kecil, melainkan kemungkinan suatu hari nanti tak ada lagi koran yang terbit di Sulawesi Utara.
Jika hari itu benar-benar datang, berarti berakhir pula pekerjaan yang telah menemaninya selama hampir tiga dekade.
Namun selama koran masih dicetak, selama mobil pengangkut dari Manado masih mengirimkan bundel surat kabar ke Kotamobagu, Didin memastikan dirinya akan tetap berjualan.
“Yang penting masih bisa untuk makan dan penuhi kebutuhan lain, tetap akan jualan koran,” katanya mantap.
Meski jumlah pembaca terus berkurang, kesetiaan sebagian pelanggan masih menjadi penyemangatnya.
Dari 50 eksemplar yang ia bawa setiap hari, 10 di antaranya sudah memiliki pemilik tetap. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anggota kepolisian, pegawai bank hingga pengusaha.
Sisanya ia jajakan dengan berkeliling kota, berharap masih ada tangan yang memilih membuka lipatan koran dibanding menggulir layar ponsel.
Bagi banyak orang, koran mungkin hanya selembar kertas yang perlahan ditinggalkan zaman.
Namun bagi Didin, koran adalah saksi perjalanan hidup.
Dari hasil menjual surat kabar, ia mampu membangun rumah impiannya di Kelurahan Motoboi Kecil, membesarkan keluarga, dan bertahan menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.
Di saat dunia berlari menuju era digital, Didin tetap berjalan dengan ritmenya sendiri. Membawa kabar dari rumah ke rumah. Menjaga profesi yang mulai langka, dan membuktikan bahwa di balik lembaran koran yang kian menipis, masih ada kisah tentang kesetiaan, kerja keras, dan rasa syukur yang tak pernah pudar.***