.

Berita Bolmong

Cerita Eman Rasyid, 4 Jam Tertimbun di Tambang Bakan. Hampir Minum Kencing dan Darah untuk Bertahan Hidup

Cerita Eman Rasyid, 4 Jam Tertimbun di Tambang Bakan. Hampir Minum Kencing dan Darah untuk Bertahan Hidup
Eman Rasyid, korban selamat di tambang emas Bakan.

BOLMONG– Minggu (3/3/2019) sore, sekira pukul 16.30 WITA, di kompleks posko pencarian korban tambang emas yang ambruk di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), datang seorang penambang selamat dari musibah naas itu.

Dia adalah Eman Rasyid, warga Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan.

Menggunakan jaket berwarna biru dan menutupi kepalanya yang ada bekas jahitan, Eman, menceritakan kisah dan perjuanganya lolos dari ambruknya batuan besar di lokasi tambang emas Bukit Busa, Bakan.

Saat ditemui, dengan santun dia menyapa wartawan kroniktotabuan.com. Mata berkaca seakan dia ingin pecahkan tangis. Eman menjabat tangan sambil menarik nafas dalam-dalam.

Sambil duduk di tepi jalan, Eman, mulai menceritakan kisah perjuangannya bisa lolos dari musibah maut yang menelan puluhan korban baik meninggal dunia, luka-luka dan belum ditemukan, di lokasi tambang emas Busa, Desa Bakan pada Selasa (26/2/2019) lalu.

Baca Juga: Kakek 75 Tahun Ini 4 Hari 4 Malam Datangi Goa Tambang Bakan dan Panggil Nama Anaknya

Eman dan 5 temannya sesama penambang, IL, Muksa, Edi, Aping dan Ikran, berangkat ke tambang hari itu pukul 15.00 WITA dengan membawa bekal berupa nasi, lauk, sayur, kue dan pakaian untuk dipakai saat bekerja dalam goa.

Sekira pukul 16.00 WITA mereka menuju lokasi Bakan dengan menggunakan sepeda motor. Jarak Desa Bakan dan Desa Tanoyan Selatan hanya ditempuh sekira 5- 7 menit. Dua desa ini hanya berbatasan jembatan. 

Perjalanan dengan menggunakan motor, terhenti di tempat penitipan yang jaraknya sekira 2 kilometer dari Desa Bakan. 

“Setelah parkir motor, kami jalan kaki selama 2 jam menuju tempat mengambil batuan rep (material emas),” kisahnya sambil membuka penutup kepala dan terlihat luka bekas jahitan.

Sebelum masuk dalam goa itu, Eman dan rekannya makan bersama terlebih dahulu agar saat bekerja, sudah terisi perut.

“Selesai makan, sekitar pukul 17.00 WITA, sambil merokok kami menuju tempat pengambilan rep yang jaraknya hanya 5 meter,” ungkapnya.

Sebelum peristiwa naas malam itu terjadi padw pukul 22.00 WITA, mereka sudah bekerja dan sudah mengisi batuan mengandung material emas dalam karung. Penambang lokal menyebutnya batuan rep.

Menurut Eman, jarak masuk ke dalam goa dari pintu utama hanya berkisar 5 meter saja. Mulai dari pintu masuk sampai ke dalam, semua batu adalah rep. 

“IL lebih dulu mengambil batu rep dan kami pecahkan batu itu. Sekitar 1 jam kami pecahkan batu yang ada di lantai goa. Istilah kami penambang lokal raca batu,” ucapnya menceritakan aktivitas malam itu.

Eman pun mengisi rep dalam karung. 

“Teman saya IL bertanya, sudah jam berapa Man? Saya jawab jam 8 malam. IL sampaikan harus cepat agar ada rep yang diisi dalam karung,” ungkap Eman.

Pada pukul 21.00 WITA malam itu, lanjut Eman, dia sudah mengisi satu karung lebih batuan rep dalam karung yang sudah disiapkan.

Pada saat mengisi batuan rep di dalam karung, kata Eman, dia mulai melihat batuan besar sudah mulai berjatuhan. Dia pun menyampaikan kondisi itu pada temannya. 

“Saya bilang sama IL, ada batu mulai jatuh. Baru selesai saya sampaikan itu, tiba-tiba batu sebesar ukuran mobil Avanza bergantian berjatuhan secara beruntun dalam goa itu,” katanya sambil meneteskan air mata.

Bahkan, Eman sempat melihat ada batu besar seukuran mobil juga, dengan model memanjang, yang lebih dulu jatuh dan menutupi lubang dalam sedalam 1 meter lebih, yang didalamnya ada puluhan orang. 

“Setelah itu menyusul beruntun batu besar jatuh dalam goa yang diperkirakan ada 60 orang di dalamnya. Saya langsung lari dengan panik dan masuk di lubang hanya seukuran satu badan kecil dengan tinggi 50 centi meyer,” katanya sambil menarik nafas panjang.

Eman pun masuk dalam lubang itu dan berjalan dengan tiarap sepanjang 2 meter. 

“Setelah melewati 2 meter itu, saya mendapati puluhan orang sudah tertimbun runtuhan batu-batu besar dan masih ada beberapa yang berteriak minta tolong. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka,” ujar Eman dengan wajah tertunduk meneteskan air mata.

“Saya gemetar dan menangis karena banyak yang berteriak minta tolong dan saya tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka. Ada batu besar memindih mereka,” ucapnya lagi.

Pada posisi di antara himpitan batuan besar pada lubang kecil yang dia masuki, muncul 1 cahaya senter dan ternyata masih ada 3 orang lagi yang lolos dari runtuhan batu meski sudah dalam keadaan luka-luka. 

Nama mereka kata Eman, Langku, Papa Nando dan Deni. 

“Kami berempat saling berpegangan erat dalam goa, menangis dan hanya berdoa meminta pertolongan Allah SWT. Semua sudah berdarah-darah. Kepala saya terbentur pada batu saat menyelamatkan diri, mereka bertiga juga ada luka di tubuh,” ujarnya sambil memperlihatkan bekas luka jahitan di kepalanya.

Di dalam mereka hanya terus menangis dengan wajah dan tubuh bersimbah darah. “Kepala saya banyak mengeluarkan darah. Langku remuk tulang pada bagian pinggang,” ungkapnya.

Dia mengisahkan, selain berharap ada keajaiban tidak lagi terjadi batu berjatuhan, mereka terus berdoa sambil menunggu ada orang yang datang menyelamatkan. 

“4 jam kami di dalam goa yang tertutup batu dan menunggu sampai ada yang datang menyelamatkan,” kata Eman kembali meneteskan air matanya.

Sambil menunggu datang pertolongan, dia mencari air untuk diminum. 

“Lama kami berempat mendapat air. Hingga memutuskan kalau tidak dapat, kami akan minum air kencing masing-masing agar masih bisa bertahan dalam kondisi kehausan dan dipenuhi darah dengan pakaian sobek,” katanya.

Setelah terus mencari air, Eman mendapati ada botol plastik air mineral satu liter, tapi airnya sudah sangat sedikit. Dalam suasana gelap itu, mereka berempat berbagi air namun botol plastik itu dipenuhi darah segar. 

“Botol itu banyak darah, saya tidak tahu darah siapa yang terpancar pada botol plastik itu. Kami tetap ambil dan airnya berbagi untuk kami berempat,” jelasnya.

Sekira pukul 01.00 WITA, mereka berempat mendengar ada suara memanggil ke dalam mulut goa. 

“Sekitar jam 1 malam, ada suara yang terdengar lewat mulut goa dan memanggil kedalam apa masih ada yang selamat. Suara itu mengaku dari seseorang bernama Rafik. Dia bilang sabar ya… sabar… kami akan selamatkan kalian,” jelas Eman.

Mereka berempat langsung berpelukan dan menangis. Eman melanjutkan, setelah batuan yang menutupi goa berhasil disingkirkan, satu persatu mereka berempat diselamatkan. 

“Pertama ditarik keluar Langku, kemudian Papa Nando, Demi dan saya yang terakhir,” urainya.

Menurut Eman, kejadian ambruknya batu-batu besar dalam goa itu tidak berlangsung lama. 

“Kejadian berlangsung cepat, tidak cukup 1 menit. Saya lihat langsung batu-batu besar jatuh dan seperti mengejar kami semua. Jatuhnya batu-batu itu bergantian dan sangat cepat. Banyak korban di dalam,” katanya menutup pembicaraan. (ahr/zha)

To Top