ETIKA MONGONDOW

Oleh: Tyo Mokoagow

Pojok Penulis – Manusia adalah makhluk percaya. Makhluk yang tak dapat hidup tanpa merengkuh seperangkat nilai tertentu. Dan juga sebagai homo symbolicum, manusia membutuhkan simbol untuk mengutarakan makna. Maka kita selalu menggunakan perantara simbol itu untuk mengungkapkan nilai-nilai tersebut. Agar dapat dieksternalisasi oleh individu, dan dapat diinternalisasi oleh masyarakat.

Setiap masyarakat budaya selalu punya kehendak untuk mengutarakan gagasan mereka dalam seperangkat proposisi. Kebutuhan untuk menjabarkan perangkat nilai tersebut merupakan kebutuhan eksistensial. Dalam telaah antropologi, setiap masyarakat berusaha memberi jawaban atas bentuk hubungan antara individu dan masyarakat dan alam. Di Bolaang Mongondow, penelusuran eksistensial itu berujung sebagai Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban.

Motto daerah itu berada dalam dua alam sekaligus. Ia digali dari realitas sosial yang dinamis, dan dibekukan sebagai pedoman untuk saling memanusiakan manusia dengan cara-cara saling baku jaga, baku inga, dan baku sayang.

Baca Juga: MATA

Motto tersebut bukan sekadar kewajiban individual belaka. Sebab dalam kata-kata itu tersirat sebuah hubungan resiprokal, sebuah makna yang mengarah pada kata kerja yang melibatkan lebih dari satu orang. Dengan demikian, motto tersebut mesti bekerja secara kolektif agar nilai tersebut bisa terungkap dari tataran semantic menjadi tataran realitas.

Lalu untuk mentransformasikan nilai tersebut, otomatis seseorang harus meninggalkan dirinya sebagai individu dan merasakan arti penting eksistensinya dalam kerumunan orang. Masyarakat Bolaang Mongondow adalah masyarakat yang mengedepankan kepentingan sosial daripada kepentingan individu. Di mana di tengah kepentingan social tersebut, diri sebagai individu melebur karena laku altruistik. Dengan kata lain, masyarakat Bolaang Mongondow bukanlah individu yang egoistik.

Tiga hubungan yang dimaksud tadi bersifat timbal balik secara direksionalitas. Juga bersifat cinta kasih secara normatif. Cinta kasih, yakni saling mengingatkan, melindungi, dan menyayangi, adalah nilai-nilai luhur yang mencirikan manusia Bolaang Mongondow. Maka mereka yang justru mempraktikkan cara yang berkebalikan, yakni saling melupakan, saling menjahati, dan saling menyakiti, bukanlah manusia Bolaang Mongondow.

Baca Juga: Perihal Memoles Pesona Negeri Arunika, Sam Tidak Sedang Bercanda!

Cinta kasih Bolaang Mongondow bukan sekadar cinta kasih yang feminism. Sebab maskulinitas punya cara pandang cinta kasih yang ideal juga. Cinta bukan monopoli satu jenis kelamin, atau satu ras, atau satu suku, atau satu bahasa. Cinta kasih adalah perkara universal. Ketika dia dikooptasi oleh satu golongan, maka cinta tersebut menjadi cinta tertutup, cinta yang totaliter.

Maka etika Bolaang Mongondow bukan hanya berlaku secara particular, yakni tidak hanya diterapkan oleh individu Bolaang Mongondow pada individu Bolaang Mongondow, tidak hanya diterapkan pada satu wilayah geografis atau kelomok social tertentu, tapi perlu digalakan kepada seluruh umat manusia.

Kendati visi etis ini lahir dari Rahim budaya yang particular, tapi dimensi aksiologisnya berkonsekuensi secara universal. Inilah perangkat nilai yang bersifat perennial. Di manapun kita pergi, bisa saya kita menemukan masyarakat Bolaang Mongondow kendati ia tak lahir dari geografi kita atau dari silsilah raja-raja Mongondow. Bahkan sangat mungkin orang yang lahir dari geografi serta silsilah raja-raja Mongondow bahkan tak mempraktikkan etika kasih sayang ini. Dan saat itu status ontologis sebagai manusia Mongondow terbatalkan secara internal.

Etika Mongondow adalah dimensi esoteric, yakni dimensi nilai dan makna yang universal. Ketika ia dilembagakan dalam sebuah ritus, ia lalu menjadi dimensi eksoteris yang particular. Secara keseluruhan, bisa kita lihat ritus tiap masyarakat budaya untuk mengaplikasikan perangkat nilai mereka amat beragam. Setiap budaya memiliki falsafah dasarnya masing-masing, sebuah pandangan dunia yang terlegitimasi oleh kehendak purwa. Tapi secara substansi, semuanya berkehendak kea rah yang sama, yakni mewujudkan kebaikan. Yang berbeda hanyalah metode dan cara untuk mewujudkan kebaikan sesuai dengan kebiasaan masing-masing budaya.

Di sini kita mendapati bahwa perangkat nilai Bolaang Mongondow adalah aksioma universal. Bila kita ingin melindungi, merawat ingatan, serta menyayangi Bolaang Mongondow, cara yang sama harus berlaku pada sikap kita di hadapan budaya di luar Bolaang Mongondow.(*)

Penulis saat ini aktif di Komunitas Literasi Rumah Baca Kotamobagu

Berita Terpopuler