Berita Bolmong

La Nyala Lapor ke Wapres, Provinsi BMR Layak

La Nyala Lapor ke Wapres, Provinsi BMR Layak
Ketua DPD RI La Nyalla Mataliti bersama Wapres RI Ma'ruf Amin. (isitimewa)
Kroniktotabuan.com

BOLMONG– Belum lama ini Ketua DPD RI La Nyalla Matalitti bersama beberapa senator dari beberapa wilayah di Indonesia termasuk Cherish Hariette Mokoagow (CHM) berkunjung ke Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Kepada mereka Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow melaporkan apa yang menjadi harapan dan doa masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR) terkait pembentukan daerah otonomi baru yakni Provinsi BMR.

Menurut Yasti, kunjungan para senator di BMR sekaligus akan menjawab cita-cita masyarakat BMR.

“Ada harapan besar dari rakyat BMR terkait dengan kunjungan ini, semoga bapak ketua DPD RI bersama para senator lainnya mampu mengawal cita-cita warga BMR,” ujar Yasti saat itu.

Menariknya, laporan Bupati Yasti itu langsung ditindaklanjuti Ketua DPD RI AA La Nyalla Mattalitti saat melakukan rapat konsultasi bersama Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD).

La Nyalla melaporkan sejumlah wilayah yang dinilai DPD layak untuk menjadi provinsi, selain Papua.

La Nyala Lapor ke Wapres, Provinsi BMR Layak

Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow dan Ketua DPR RI La Nyalla Mataliti. (dok)

“Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih atas waktu yang diberikan Bapak Wakil Presiden yang juga sebagai Ketua DPOD dalam rapat konsultasi hari ini,” ujar La Nyalla dalam rapat konsultasi bersama Wapres KH Ma’ruf Amin di Istana Wapres, Jakarta, dikutip dari fan page Facebook La Nyalla, Kamis (3/12/2020).

Dikatakan Lanyalla, dari kajian dan aspirasi yang diterima DPD, empat provinsi baru yang layak mendapat perhatian pemerintah adalah Provinsi Kapuas Raya di Kalimantan Barat, Provinsi Bolaang Mongondow Raya di Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Tapanuli Raya di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Madura di Provinsi Jawa Timur.

Senator asal Dapil Jawa Timur ini merinci mengenai faktor-faktor yang memicu pemekaran di banyak daerah. LaNyalla menyebut di antaranya adalah kesenjangan kesejahteraan, mendekatkan pelayanan publik, meraih dan mendistribusikan kekuatan politik, dan faktor perbedaan sosial dan budaya.

“Kami memahami bahwa membentuk DOB berarti menambah biaya untuk Kepala Daerah dan Wakilnya, DPRD, Organisasi Perangkat daerah (OPD), serta biaya untuk gaji, operasional kantor, peralatan dan gedung,” tuturnya.

“Sebagian besar DOB, PAD-nya habis bahkan tak cukup untuk membiayai organisasi baru itu, apalagi untuk belanja infrastruktur, pelayanan pendidikan, kesehatan, pengairan dan lain-lain untuk produksi ekonomi. Jika yang menikmati hanya elit bukan rakyat, tentu itu bukan tujuan DOB,” imbuh La Nyalla.

Oleh karena itu, kata mantan Ketum PSSI ini, pemekaran wilayah harus dilakukan secara selektif. Menurut Lanyalla, pemekaran wilayah harus berdasarkan kebutuhan teknis managerial untuk peningkatan pelayanan dan percepatan pembangunan.

“Sejalan dengan hal tersebut, bila kita melihat dari aspek geografis dari Sabang hingga Merauke, sudah sepatutnya kita bisa memetakan berapa sebenarnya jumlah Provinsi yang cocok dengan luasnya cakupan wilayah Indonesia saat ini, apakah bisa kita petakan misalnya 45 Provinsi,” tambahnya.

Oleh karena itu, sebut Lanyalla, pembahasan dan perumusan bersama soal Penataan Daerah dan Desain Besar Penataan daerah (Desartada) perlu dilakukan. Ini sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa akan diterbitkan aturan pelaksananya dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP).

Selain Ma’ruf Amin, rapat ini juga dihadiri oleh Mendagri Tito Karnavian. Rapat pun diikuti oleh Pimpinan Komite I DPD RI Fachrul Razi dan Djafar Alkatiri. Serta Wakil Ketua Komite II DPD RI Bustami Zainudin. (len/*)

To Top