Berita Daerah

LKP JiLTS Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

LKP JiLTS Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Aktivitas kursus di LKP-JiLTS dengan peserta terbatas dan menerapkan protokol kesehatan.
Kroniktotabuan.com

KOTAMOBAGU– Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) “Global” Language & Training Center (JiLTS) Kotamobagu, terus berjuang dan bertahan eksis di tengah pandemi Covid-19.

Sejak pandemi melanda pada Maret lalu, LKP-JiLTS langsung merasakan dampaknya. Maret- Agustus tidak ada sama sekali kelas dibuka. Kegiatan kursus dihentikan dan gedung utama ditutup.

Pimpinan LKP-JiLTS Kotamobagu, Dian Ekawati Maani SS mengatakan, mereka mengikuti apa yang menjadi ketentuan yang ditetapkan pemerintah dalam masa pandemi.

Dian menjelaskan, bersama jajaran manajemen LKP-JiLTS sempat menyusun program kursus secara daring, tapi urung diterapkan karena berbagai kendala.

“Kami pernah menerapkan kursus dengan pola pembelajaran daring dimasa pandemi ini tapi tidak maksimal. Kendalanya adalah orang tua banyak yang bekerja sementara fasilitas utama pembelajaran adalah handphone. Kemudian anak-anak harus didampingi orang tua. Jadi, kalau tidak ada handphone, maka sulit kursus melalui belajar dengan sistem daring,” ungkapnya, Minggu (29/11/2020).

Menurut Dian, pembelajaran daring membuat kedekatan secara langsung dengan siswa saat belajar tidak maksimal.

“Memang kami berencana beralih ke kursus virtual karena pamdemi Covid-19. Tapi pertimbangannya, pendidikan formal saja banyak keluhan soal kuota internet, apalagi kami di pendidikan non formal. Hanya sedikit yang bisa mengikuti kursus secara online, karena itu tidak dilaksanakan,” jelasnya.

Jika tidak ada pandemi, bulan Juli adalah momentum dimana banyak anak-anak mengambil program kursus dan pelatihan di LKP-JiLTS.

“Tapi saat ini kami belum bisa melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah karena semua masih tutup,” urainya.

Sejak didirikan 2006, LKP-JiLTS adalah tempat kursus yang menargetkan peningkatan sumber daya anak-anak, dengan sasaran orang tua berpenghasilan menengah ke bawah. Bukan itu saja, biaya kursus pun murah sehingga bisa dijangkau semua kalangan.

“Dengan biaya murah, relatif terjangkau oleh orang tua. Tetapi kami dalam memberikan pendidikan kursus, tidak mengabaikan kualitas. Apalagi, kami sebagai pengajar adalah putra putri daerah yang ingin mendedikasikan diri untuk kemajuan pendidikan dengan menerapkan biaya murah, sehingga semua bisa dijangkau dengan program kursus di LKP- JiLTS,” kata Dian.

Selama enam bulan (Maret- Spetember) tidak ada kegiatan kursus di LKP-JiLTS. Selama itu pula tidak ada pendapatan untuk menggaji instruktur yang jumlahnya 23 orang. JiLTS juga tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah.

Pemberlakuan new normal seperti saat ini, LKP- JiLTS menyesuaikan dengan mulai membuka kembali kelas kursus dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Instruktur menggunakan alat pelindung diri (APD). Sementara siswa kursus memakai masker, suhu tubuh diukur, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Ada kendala juga meski sudah memulai membuka kelas kursus di masa new normal. Karena pembatasan jumlah anak kursus di masa pandemi, sehari maksimal hanya satu kelas dengan jumlah siswa tujuh orang,” jelasnya.

Jika terus dibatasi jumlah anak kursus, itu tidak akan mendukung biaya operasional.

“Pandemi ini telah membuat kondisi ekonomi tidak berjalan seimbang. Biaya kursus juga tidak bisa kami naikkan,” tandasnya. (bto)

To Top