.
Iklan Resmi Pemerintah kota Kotamobagu Idul Fitri
Berita Daerah

Jangan Jauhi Penderita HIV/AIDS di Kotamobagu

Jangan Jauhi Penderita HIV/AIDS di Kotamobagu Berita Daerah Berita Kotamobagu
Kroniktotabuan.com

Jangan Jauhi Penderita HIV/AIDS di Kotamobagu Berita Daerah Berita Kotamobagu

KOTAMOBAGU–  Data penderita human immunodeficiency virus dan acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di Kotamobagu cenderung bertambah. Juni lalu jumlah penderita di data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotamobagu sebanyak 63 orang. Sekarang sudah mencapai 66 orang dengan dua di antaranya telah meninggal dunia.

Sekretaris Dinkes Kotamobagu Dahlan Mokodompit mengatakan, 66 penderita HIV/ AIDS yang terdata merupakan akumulasi dari beberapa tahun sebelumnya. Upaya pencegahan terus dilakukan Dinkes, termasuk melakukan pemantauan secara intensif. Kehidupan para penderita sehari- hari, aktivitas dan dengan siapa mereka berbaur, menjadi hal yang tidak luput dari pantauan tim.

Dinkes juga kata Dahlan, selalu mengingatkan keluarga agar penderita tidak dikucilkan atau dijauhi.  “Namun harus selalu disemangati. Memang belum bisa disembuhkan, tapi dengan obat bisa mempertahankan sistem imun. Keluarga juga harus terlibat mengawasi agar penderita tidak menyebarkan penyakit ini kepada orang lain,” kata Dahlan.

Terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di daerah ini, pemerintah sudah seharusnya melengkapi berbagai macam fasilitas peralatan untuk mendeteksi penyakit berbahaya ini hingga penanganannya. Salah satu fasilitas dibutuhkan adalah klinik voluntary counseling and testing (VCT). Klinik ini baru ada di Manado, sehingga warga yang diduga mengidap HIV AIDS harus dibawa ke sana untuk memastikan status pasien apakah positif atau negatif.

“Setiap tahun  pengadaan klinik VCT terus kami upayakan tetapi belum terealisasi,” kata Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kotamobagu, Vonny Kawuwung.

Vonny mengatakan, klinik VCT sangat dibutuhkan oleh Dinkes, warga dan terutama pasien HIV/AIDS untuk melakukan tes, konseling maupun pengobatan. Apalagi selama ini pasien yang mau berobat harus ke Manado. Sementara itu jika harus rutin berobat ke Kotamobagu, sebagian pasien terkadang tidak sanggup karena biaya operasional cukup besar.

“Kalau ke Manado,  pasien berat di ongkos. Terlebih lagi para penderita rata- rata berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Tapi kalau ada klinik  di sini akan memudahkan mereka,” tutupnya. (zha)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top